Sudah beberapa hari ini, Androe kelihatan ogah-ogahan ber-B2S (bike to school). Entah kenapa, mungkin sudah jenuh... Tidak ada tantangan baru. Paling-paling tantangannya adu cepat saat melintasi tanjakan di S Parman, atau menguntit cewek cakeup di angkot... (hehehe... kelakuan...).
Sehari-harinya, mereka berangkat berombongan, karena mungkin sudah se-hati, jadi masing-masing sudah tahu jam berapa mesti siap dan mangkal di pos pemberangkatannya.
Androe, mengawali terlebih dahulu bareng Ryan. Sampai traffic light Blimbing sudah menunggu Timot. Di depan Sabillillah ada si van hallen, Moeldermoth, Gus Ut, ama Soson, kadang Nugi gabung juga bareng Bison. Lepas Ciliwung, rombongan makin besar ada Awid, Phatsy, Yoyon, wah meriah.
Rupanya kebosanan yang sama juga mulai menghinggapi Timot, rasanya ada gejolak yang menggebu ingin mencoba tantangan yang lain.
”Droe, koen tau nggandhol pick up ta...? tanya Timot waktu istirahat di bawah pohon kenari.
Androe menggeleng penuh minat sekaligus ragu.
“Ayo sesok nggandhol ae yooo... sementara gak usah sepedaan”
Androe bengong minat tapi ragu, dia ingat pasti ibunya gak suka cara ini.
”Wis talah, sesok yo, tak enteni ndek lampu merah” Timot kembali memprovokasi. Itulah Androe, kelemahan dia, terlalu setia kawan, sehingga kadang-kadang di susah menolak ajakan teman-temannya.
Sehari-harinya, mereka berangkat berombongan, karena mungkin sudah se-hati, jadi masing-masing sudah tahu jam berapa mesti siap dan mangkal di pos pemberangkatannya.
Androe, mengawali terlebih dahulu bareng Ryan. Sampai traffic light Blimbing sudah menunggu Timot. Di depan Sabillillah ada si van hallen, Moeldermoth, Gus Ut, ama Soson, kadang Nugi gabung juga bareng Bison. Lepas Ciliwung, rombongan makin besar ada Awid, Phatsy, Yoyon, wah meriah.
Rupanya kebosanan yang sama juga mulai menghinggapi Timot, rasanya ada gejolak yang menggebu ingin mencoba tantangan yang lain.
”Droe, koen tau nggandhol pick up ta...? tanya Timot waktu istirahat di bawah pohon kenari.
Androe menggeleng penuh minat sekaligus ragu.
“Ayo sesok nggandhol ae yooo... sementara gak usah sepedaan”
Androe bengong minat tapi ragu, dia ingat pasti ibunya gak suka cara ini.
”Wis talah, sesok yo, tak enteni ndek lampu merah” Timot kembali memprovokasi. Itulah Androe, kelemahan dia, terlalu setia kawan, sehingga kadang-kadang di susah menolak ajakan teman-temannya.
---------------
Siang Androe berangkat lebih awal, Ibunya agak heran juga, jam 09.30, Androe sudah siap di meja makan, tentu saja jam segitu ibunya belum selesai masak, paling-paling Cuma ada nasi putih sama kecap. Tapi, dasar Androe, mulai pagi tadi dia sudah menunggu di dekat kandang ayam, ditunggui si Putih bertelur. Nah, dia jadi punya lauk buat makan pagi ini.
Awalnya Androe mendapat sepasang ayam dari Om-nya. Tidak disangka, Androe cukup tekun juga merawat si Putih dan si Gogo, hingga saat ini sudah jadi hampir 20 ekor. Sekarang dia mulai bisa merasakan hasilnya. Paling tidak, seperti hari ini, saat dia perlu sarapan lebih awal, telur si putih cukup bisa diandalkan untuk dijadikan lauk. Bahkan pernah juga saking banyaknya telur si Putih dan anak-anaknya, hasil penjualan telurnya bisa dia belikan sepatu.
-------------
10.00 Androe sampai di traffic light, di sana Timot sudah menunggu, santai jongkok di depan sebuah toko. Sebatang rokok terkepit di antara jari jemari-nya, ups!!!
”Mot, kau merokok?” Androe, sedikit heran. Timot cuman senyum. ”Tenang boy, Cuma coba aja, sebatang tak apalah... ”
”Gak enak kok boy, pahit bikin batuk... Nih mau coba?” Timot menawarinya. Androe menggeleng segan. ”Ayolah boy, biar tahu kalau rokok itu memang tak enak” Timot kembali menyorongkan ke mulutnya. Androe, mundur sejenak, matanya menangkap bus sedang berhenti karena lampu merah.
”Mot, naik bus aja, kan biasanya berhenti deket sekolah”. Tanpa menunggu persetujuan Timot, Androe, bergegas menuju bus.
”Cak nunut yo” Androe polos meminta ijin pada kenek bus yang di pintu masuk bus.
”Ayo le, cepet munggah-munggah”. Kenek bus sigap menarik tangan androe naik. Timot kelabakan, membuang sisa rokok, tergopoh-gopoh mengejar Androe.
”Lik, melok-melok leek...” Timot meloncat ke pintu bus yang mulai perlahan berjalan.
”Jangkrik koen Droe, ninggal ae, malih tak buak rokokku” Timot mengumpat, Androe cuman tertawa geli melihat Timot terengah-engah. Beberapa penumpang melirik tak peduli.
”Gendheng koen Ndroe, jare gak tahu nggandhol, lha iki kok langsung iso”. Timot masih agak heran melihat Androe langsung menemukan cara ke sekolah dengan cepat. Ternyata, diam-diam Androe sudah mengamati, kalau selama ini, bus yang akan menuju terminal Patimura, pasti berhenti di ujung jalan Cipto atau sebelum pasar Klojen. Jadi kalau dia boleh numpang, tinggal menunggu saja, bus-nya akan berhenti di mana.
”Hm, enak to, nebeng bus, gak capai”. Timot bergumam senang.
----------------
Awalnya Androe mendapat sepasang ayam dari Om-nya. Tidak disangka, Androe cukup tekun juga merawat si Putih dan si Gogo, hingga saat ini sudah jadi hampir 20 ekor. Sekarang dia mulai bisa merasakan hasilnya. Paling tidak, seperti hari ini, saat dia perlu sarapan lebih awal, telur si putih cukup bisa diandalkan untuk dijadikan lauk. Bahkan pernah juga saking banyaknya telur si Putih dan anak-anaknya, hasil penjualan telurnya bisa dia belikan sepatu.
-------------
10.00 Androe sampai di traffic light, di sana Timot sudah menunggu, santai jongkok di depan sebuah toko. Sebatang rokok terkepit di antara jari jemari-nya, ups!!!
”Mot, kau merokok?” Androe, sedikit heran. Timot cuman senyum. ”Tenang boy, Cuma coba aja, sebatang tak apalah... ”
”Gak enak kok boy, pahit bikin batuk... Nih mau coba?” Timot menawarinya. Androe menggeleng segan. ”Ayolah boy, biar tahu kalau rokok itu memang tak enak” Timot kembali menyorongkan ke mulutnya. Androe, mundur sejenak, matanya menangkap bus sedang berhenti karena lampu merah.
”Mot, naik bus aja, kan biasanya berhenti deket sekolah”. Tanpa menunggu persetujuan Timot, Androe, bergegas menuju bus.
”Cak nunut yo” Androe polos meminta ijin pada kenek bus yang di pintu masuk bus.
”Ayo le, cepet munggah-munggah”. Kenek bus sigap menarik tangan androe naik. Timot kelabakan, membuang sisa rokok, tergopoh-gopoh mengejar Androe.
”Lik, melok-melok leek...” Timot meloncat ke pintu bus yang mulai perlahan berjalan.
”Jangkrik koen Droe, ninggal ae, malih tak buak rokokku” Timot mengumpat, Androe cuman tertawa geli melihat Timot terengah-engah. Beberapa penumpang melirik tak peduli.
”Gendheng koen Ndroe, jare gak tahu nggandhol, lha iki kok langsung iso”. Timot masih agak heran melihat Androe langsung menemukan cara ke sekolah dengan cepat. Ternyata, diam-diam Androe sudah mengamati, kalau selama ini, bus yang akan menuju terminal Patimura, pasti berhenti di ujung jalan Cipto atau sebelum pasar Klojen. Jadi kalau dia boleh numpang, tinggal menunggu saja, bus-nya akan berhenti di mana.
”Hm, enak to, nebeng bus, gak capai”. Timot bergumam senang.
----------------

