Showing posts with label MY STORY. Show all posts
Showing posts with label MY STORY. Show all posts

Sunday, February 13, 2011

WHEN THE OLD FRIEND BACK

"Bip...bip...bip" dering HP, tanda ada pesan masuk.
Aha... Seorang kawan lama, tumben, setelah beberapa tahun menghilang.  Tiba-tiba muncul dengan SMS bernada ceria, menanyakan apakah hari Minggu bisa berkunjung ke rumah.
"Of course my friend, dengan senang hati" jawabku riang.

Aku pertama mengenalnya sebagai  karyawan baru, yang secara tak sengaja terdampar di kubikel bagianku.  Rupanya di bagian di mana dia ditempatkan sudah kehabisan tempat, makanya untuk sementara dia dititipkan menempati salah satu meja kosong dekat mejaku.

Demikianlah, tempat yang sama dan sering bertemu membuat kita lebih cepat akrab satu sama lain. Sampai suatu saat akhirnya dia berpindah tempat ke bagiannya.  Namun begitu tidak mengurangi intensitas bertemu.  Bersama beberapa orang teman secara berkala kita makan siang di luar.  Bergantian saja siapa yang dapat giliran menjadi "Bos".

Dah terbayang, setelah sekian lama tidak bertemu, akan menjadi reuni yang seru, apalagi keluarga kita pun sudah akrab.

Saat-nya tiba.  Surprise juga...
But... belum lama berselang ... "Gubaraxxx!"
Langsung "ilfeel" ujung-ujungnya pembicaraan dibelokkan ke arah bisnis, prospek.  Rupanya kawanku itu merangkap menjadi agen salah satu asuransi.

Berbanding terbalik deh jadi, dia begitu semangat menjelaskan.  Aku sekuat tenaga berusaha agat tidak jatuh terkantuk-kantuk mendengar semua paparannya.  This same is not the right time, friend...

Friday, May 14, 2010

Misteri Tri ‘Buang’ Tunggadewi...


Terdaftar dengan nama yang cukup singkat ’Buang’, teman kita yang satu ini, dikenal cukup pendiam di kelas kita. Tapi sebenarnya dia mempunyai bakat iseng yang terpendam loh... (hehehe... Mas Buang don’t be angry ya...).

Sudah menjadi tradisi, pada setiap pergantian mata pelajaran selalu di mulai dengan perebutan bangku.  Dari sinilah kisah ini berawal. 

Diam-diam Buang ini demen banget ama pelajaran sejarah, pokoknya setiap pelajaran sejarah dia tidak ikut berkompetisi merebut bangku belakang. Dia malah melenggang dengan santai.  Suatu saat pernah aku menanyakan kenapa tidak ikut mencari posisi.  Dia cuma mengeleng, kalem.
"Sengaja ya...? Biar dapat bangku terdepan...? desakku tak sabar.  Dia makin senyum-senyum misterius.  
Tak sabar, aku pun berhambur berkompetisi berebut bangku belakang.  Jadi terpikir olehku, mungkin dah putus asa kaleee...  Karena dalam kompetisi perebutan bangku tembok, Buang seringnya kalah, alias dengan sangat terpaksa musti jadi sopir di depan walaupun dia sudah full of struggle memperjuangkan si bangku tembok.
"Tapi mengapa cuma pas pelajaran sejarah aja?" masih penasaran aku.

Waktu itu guru sejarahnya adalah Ibu Tri Rahayu... Hm, dah kebayang?... S’moga masih ingat... Itu lho, yang manis, imuts … (hehehe… apalagi neee… hiks maaf ya Bu… jadi terlalu jujur nih...).

Atau mungkin juga gara-gara itu Buang jadi suka pelajaran Sejarah... Entahlah... Yang jelas memang sebagian besar teman-teman cowok juga serupa ama Si Buang jadi penggemar pelajaran Sejarah. Akibatnya tentu saja para cewek-cewek tidak perlu berjibaku lagi berebut bangku belakang, karena para cowok justru berebut bangku terdepan... Nah loh...



Suatu hari Ibu Tri Rahayu mengadakan ulangan Sejarah, saat itu topiknya tentang kerajaan Majapahit. Ada salah satu pertanyaan dari ulangan itu yang menjadi pangkal misteri ini, yaitu ’Siapakah raja Majapahit sebelum Hayam Wuruk?'



Tentu saja pertanyaan itu tidak terlalu sulit buat kita semua, apalagi buat Buang yang si penggemar sejarah.  Pasti jawabannya 'Tri Buana Tunggadewi'.



Namun apa yang terjadi ketika hasil ulangan dibagikan kembali. Di kertas jawaban Buang, tertera jawaban, raja Majapahit wanita itu bernama ’Tri Rahayu’... dan jawaban itu dicoret dengan tinta merah oleh Ibu Tri Rahayu diganti dengan nama ’Buang’



Kontan kita cekikikan bengong tak abis pikir... Buang yang ditanya apakah dia emang sengaja ato cuman salah tulis, cuman mesem2 gokil... Bikin kita penasaran.... . Sampai akhir kelas 1 misteri ’Tri Buang Tunggadewi’ belum terpecahkan, ... Buang… Buang…!!! ;)

Monday, May 10, 2010

"Nyungsep"

"Let's go sport friends!" begitu terbaca salam pembuka ketika aku buka e-mail pagi itu.

"Hm, boleh juga" batinku.  Setelah 2 bulan lebih berkutat dengan FTD, mister-mister Italiano, sepetak kamar kost, rasanya boleh juga main basket after work time.  Segera aku forward ke para gank 'nomaden' lain.  Biar tambah  semarak.

Dua bulan terakhir sejak aku ditugaskan di Karawang plant ini, serasa irama hidupku berubah.  Rasanya seperti kembali ke masa-masa lalu saat awal-awal bekerja.  Seakan mulai keluar dari keteraturan yang selama ini sudah aku jalani.  Berangkat kerja tanpa sarapan, pulang kerja bisa berlambat-lambat.  Makan malam sedapat-nya, dan late night sleep, kalau pas para nomaden ini sedang mengadakan nite refreshing dinner ke tempat yang agak jauh, nomat atau sekedar karaoke.

Ditempat tugas kebetulan bertemu beberapa kawan yang masih terpaksa melajang, bukan karena gak laku, tapi memang karena baru saja pindah tugas atau tugas sementara, sehingga keluarga tidak diajak serta.  Nah kita yang senasib ini lah yang akhirnya menyebut sebagai kelompok nomaden.

Akhirnya waktunyapun tiba, kembali lagi bermain basket setelah berpuluh tahun tidak bermain.  Jadi ingat pas SMA, aku selalu masuk dalam team kocak basket kelas... hehehe... Saking kocaknya main basket bisa jadi perpaduan menjadi bola tangan, atu sepak bola... hehehe...

Beberapa rekan sudah mulai pemanasan dan shooting ball ketika kami tiba.  Segera kita bergabung, beradaptasi dengan bola yang bertahun tak tersentuh.  Lumayan juga paling tidak masih kena papan pantul walau cuman sesekali masuk keranjang dari puluhan kali percobaan... ;)

Suasana makin seru ketika beberapa rekan mulai berdatangan, sehingga kita bisa bermain three on three.  Seru pastinya, meskipun gak sampai 10 menit kemudian sudah megap-megap seperti koi yang kekurangan oksigen. ;)

Semakin malam semakin banyak aja yang datang, sehingga pas untuk main 1 lapangan penuh.  Sebenarnya aku sudah tidak ingin bermain lagi, napas sudah senin - kamis.  Tetapi kalau tidak ikut pemainnya kurang untuk main 1 lapangan penuh.

Ya sudahlah, pasrah ikut dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. 
"Hm, lumyan juga bermain lapangan penuh.  Pergerakan jadi lebih lapang dan bebas" batinku di tengan napas yang sudah mulai tersengal.
Huf, tiba-tiba aku lihat sekelebat teman mengirim bola ke arahku.  Aku bergerak berbalik arah menyongsong datangnya bola. Tapi malang, kakiku tersangkut kaki salah seorang pemain lawan di belakangku.  Akibatnya, tubuhku serasa melayang, kemudian berdebum mukaku mencium lapangan yang keras.  Sesaat 'blank', sejurus kemudian terasa asin di bibir.  Rupanya sobek berdarah terbentur gigi.  Kelopak mata dan pelipis memar.  Hidung ngilu merah.

Mulai ribut teman-teman bawa ke Poliklinik.  Untunglah sampai di sana segera ditangani oleh petugas yang segera menghentikan pendarahan di bibir dan mengobati luka di kelopak mata dan dagu.

Hm, satu lagi tanda mata dari lapangan basket. ;)

Sunday, March 28, 2010

Good Morning Cikarang

Cikarang, 28 Maret 2010,

Pagi terasa sejuk, matahari di balik mendung enggan meninggalkan peraduan. Cahayanya temaram sesekali memancar dari balik mendung. Kabut tipis mulai beranjak menguap mengangkasa, meninggalkan titik-titik embun di rerumputan.


Kawasan industri ini mulai menggeliat beraktifitas. Beberapa karyawan mulai bergegas berangkat ke tempat kerja, sementara tampak pula serombongan anak-anak muda riang berolahraga pagi. Hari minggu yang sempurna.

Perlahan kakiku mulai menapak berlari kecil menyusuri jalan menuju luar komplek kost-kost an yang sudah hampir satu bulan aku tempati. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat minggu off day, biasanya, meskipun minggu aku masih harus tetap ke kantor. Jadual yang ketat memaksaku untuk melakukan itu semua. Untunglah sudah berakhir sekarang. Menunggu tugas berikutnya yang tak kalah pentingnya. Meski sudah hampir se bulan, aku belum begitu mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal sementaraku ini. Hm, Duniaku hanya tempat kost-kantor.

Kaki membawaku semakin menjauh, melewati kawasan Pecenongan, di mana berderet-deret ruko, menawarkan berbagai macam menu makanan. Hm, ternyata tidak terlalu jauh. Biasanya sepulang dari kantor aku mampir ke salah satu tempat untuk makan malam sebelum balik ke tempat kost. Suasananya sungguh berbeda jika di pagi hari. Di malam hari tempat ini penuh dengan mobil-mobil yang terparkir di halaman, tentunya si empunya sedang asyik menikmati hidangan makan malam mereka. Pagi ini halaman parkir terlihat bersih tidak banyak mobil yang terparkir. Beberapa tukang gorengan atau ketoprak mangkal di depan salah satu ruko, menunggu pelanggan.

Aku terus melangkah. Sebuah sungai membelah jalan, meski airnya tampak coklat, namun kelihatan cukup bersih. Entah apa nama sungai ini, mungkin sungai ini yang akan menyatu dengan Kali Malang?

Perjalanan melewati sebuah perempatan tanpa traffic light, kayaknya per-empatan ini kurang begitu ramah dengan pejalan kaki. Tidak ada zebra cross tempat penyeberangan dan akses di jalur hijau cukup sempit berbatasan langsung dengan lalu lintas, cenderung berbahaya. Andai ada zebra cross dan akses yang memotong di jalur hijau tentu akan lebih aman dan nyaman untuk pejalan kaki.

Sepanjang sisi jalan dilengkapi dengan jogging track dan jalur sepeda yang teduh cukup nyaman. Hm, rasanya dah cukup jauh juga nih aku berjalan, saatnya balik mumpung energi belum habis… ;)

Saturday, March 6, 2010

could not do anything without car

Then after 3 days in acclimation session, stay in a hotel and pick up car ready to deliver in every place, now I starting to move to other place where you have to prepare everything by yourself. KIIC is industrial estate where it can not reach by public transportation easily. The place is where you can not find taxi or other public transportation here.
I stay little bit far from KIIC, at ‘pavilion’ a cluster for a lodger. It’s about 16 km from office. I do choose that place because my colleague stays there as well and the most important he drives his own car. So I can go with him everyday to office.
One day he had another business so I could not go home together with him. Oh no… I had to look for another one who has the same destination with me. Luckily, I found someone. Then we made a promised to go home together.
But at the last minutes before back home, he had something to do that make him could not back home on time. Oh no, time showed 07.20 pm, and I felt hungry, while he could not inform the time finished his jobs.
Then I called my manager, little bit protest and gave him propose to rent a car for project just a month. I understood then that he could not give decision on that day and waiting for Monday. While I still wait in hungry closer to starving.
Ah, finally… A manager was passing in front of me. I know him, he offered me to go with him. Thanks God… at last I could go home.

Thursday, March 4, 2010

--History Return--

Then, the history return. Since I got the task to execute a project in Karawang, I be a lodger. Stay far away in a distance with family. It really never been easy. Sure at the beginning there are something missing in my life, rhythm of my life change in shortly. How could I past everything by myself, while I used to spend with them, at least in last 5 years. A moment, it might be make me happy cause life alone, mean I can do everything without disturbance from any one, free from house responsible. But actually after experience almost a week in distance, I really miss them. I miss my previous life rhythm. But I have to accomplish my task here first. Then I will come to you like previous.

Tuesday, October 20, 2009

Suatu Hari di Jalur Porong

Kembali pagi ini aku harus melintasi jalur Porong, seperti hari-hari sebelumnya. Meskipun sudah bukan hal baru lagi kalau jalur Porong macet, namun hari ini terasa berbeda, karena macetnya lebih parah, sampai-sampai jalur Mlg-Sby pun digunakan untuk counter flow. Hari ini aku melewati kemacetan dengan sangat enjoy, serasa tanpa beban sedikitpun.

Dalam kemacetan seperti ini, aku bisa mengamati apa yang terjadi di sekelilingku. Ternyata di balik kemacetan ini, ada berkah juga buat sementara orang. Para joki-joki penunjuk jalan alternative, mulai kebagian rejeki, polisi-polisi cepek, pedagang asongan. Walau sementara itu mungkin juga (semoga saja tidak benar) beberapa pengendara tentu tak kurang menggerutu melihat kondisi ini.

Perlahan namun pasti berjalan sangat lambat. Pandanganku terpaku pada beberapa pengemis wanita. Sebagian besar mereka membawa balita. Trenyuh hati ini melihat anak-anak tak berdosa itu, sekecil itu sudah berada dalam lingkungan yang tak seharusnya untuk tumbuh dan berkembang. Mereka tertidur, bermain ditengah bising kendaraan, debu, dan panas. Entah motifasi apa yang ada di benak mereka mengapa harus membawanya ke tempat seperti ini.

Aku jadi teringat anak-anakku yang juga seusia dengan mereka, semakin perih terasa. Tak bisa melakukan sesuatu pun. Andaikan seluruh pengendara yang lewat di jalur Porong ini memberikan sedekah kepada mereka, apakah masalah ini bisa selesai...? Tak terjawab... Lalu siapakah yang bertanggung jawab kepada generasi-generasi muda itu...? Seolah terngiang kembali pelajaran PMP yg pernah aku terima, entah ini ada di UUD atau di mana; "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.." Bagaimana implementasi dari hal itu... Mengapa mereka masih banyak bertebaran di republik ini... Apa yang menghalangi implementasi dari hal itu..? Tanya tak belum terjawab hingga tak sadar jalur Porong terlewati, hingga aku bisa melaju lebih kencang. Derum mobilku meninggalkan debu-debu pertanyaan yang belum terjawab di jalur Porong pagi itu...

(Dalam perjalanan Surabaya - Pandaan, di tengah kemacetan Porong)

Thursday, October 15, 2009

Tertinggal

"Dumb!!!"

"Di mana tas kerjaku?" bingung campur gugup.

"Ups! Padahal sebentar lagi harus lead pre-bid tender" keluh sambil melongok ke jok belakang barangkali si tas beserta perkakas kerja terselip di situ. The busy day, hari ini ada meeting pre-bid ja09.00, kemudian review progress jam 11.00, selanjutnya ada beberapa deadline task yg harus diselesaikan, dan semuanya perlu data-data yang tersimpan manis dalam laptop-nya. Dan sekarang seakan tas kerja yang berisi laptop-nya tak berbekas, padahal seakan tadi sebelum berangkat sudah dia masukkan di jok belakang.

Termangu sejenak, mengingat perjalanan hari ini. Sementara alexandre Christie di tangan kirinya perlahan namun pasti beranjak menuju 08.30.

Start, antar Adis ke sekolah... Beli bensin... hm rasanya aku tidak membuka pintu mobil sama sekali. Merenung sambil mengingat-ingat.
Ah, mendesah tidak sabar, call aja ke rumah....
" Halo, Ay... tasnya kok ditinggal" Bunday langsung menjawab dering telponku, seakan sudah tahu apa yang akan aku tanyakan.
Ups.... berputar lagi memori.... "Astaga.... ternyata, tas -nya Adis yang aku masukkan ke mobil...."
Berjalan santai tangan di saku.... "Nyantai juga ya, ke kan tor tanpa menenteng beban...".
Entahlah, dipikir nanti kalau sudah sampai kantor, harus bagaimana presentasi tanpa laptop dan data.

(Sesaat tiba di Parkir Area Delta SKJ Plant... Clingak-clinguk mencari tas kerja yg raib)

Tuesday, June 9, 2009

SEGITIGA PATAH (1)

PROLOG


Riuh suara stasiun kota baru segera menyergap inderaku. Rasanya belum ada perubahan begitu berarti sejak terakhir kutinggalkan 4 tahun yang lalu. Langkah kakiku perlahan membawa ku mengikuti arus penumpang bergelombang menuju pintu keluar stasiun. Pekik kerinduan terdengar di sekitarku, sapaan khas bahasa malang berbaur memenuhi ruang penjemputan.

”Jangkrik koen, yo’opo kabare? Wis suwe gak hilum rek, tambah tahes ngene cak” seorang pemuda agak dekil menjemput, mungkin kakaknya yang mungkin baru pulang dari perantauan. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.

Sampai di depan stasiun, aku tercenung ”ah akhirnya aku kembali ke Malang”. Aku membatin. Ada sedikit perih mengalir di dada. Beberapa taksi gelap dan tukang becak menawarkan mengantarkan aku. Aku berlalu begitu saja, seolah mereka tak ada. Perih di dada masih mengiris, tiap kali kuingat Malang, dan.... ”ah, aku tak sanggup menyebut namanya”.

Jika tidak ibuku menelepon ku untuk kesekian kalinya, aku tak hendak pulang. 4 tahun berlalu, rasanya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatiku. Jika tidak adikku dan calon suaminya yang meminta dan memohon kehadiranku tak akan aku pulang.

“Pulanglah Nak, sebentar saja. Kamu tentu masih ingat pesan mendiang Bapakmu” Ibuku di seberang sana.

Terdiam, melayang kembali saat-saat terakhir mendiang Bapakku. Beliau memegang tanganku dan tangan adikku disatukannya. Hanya singkat pesannya.

“Tolong gantikan Bapak melaksanakan kuwajiban terhadap adikmu” setelah itu bapakku terkulai layu, pergi untuk selamanya.

Kota tercintaku telah memberikan trauma kisah bagiku. Ragu ku melangkah, bayang-bayang suram berkelebat. ”Ah, aku begitu rapuh tak mampu menerima kenyataan itu. Hingga harus melarikan diri, mengingkari kecintaanku pada kota ini” aku mengeluh pendek. Duduk tersandar di bangku depan stasiun, sebatang A mild terjepit di jariku, asapnya perlahan mengepul, membentuk siluet-siluet wajah timbul tenggelam.

Bersambung....