Sabtu pagi, geliat kehidupan mulai terasa. bunda dah sibuk mempersiapkan untuk keperluan Adis ke sekolah. Adis malah sibuk mematut-matut baju pentasnya. Hari ini adalah perpisahan kelas-nya. Setelah liburan panjang nanti Adis sudah naik ke TK B, sementara Hafiz baru mulai masuk TK A. huft... tak terasa anak-anak mualai sekolah.
Abis sholat subuh, kembali 'melungker' menemani de' Hafiz berkelana di Pulau Kapuk... Untunglah, setelah kemarin pulang larut sehabis menengok Bapak yang sedng opname di Malang. Bunda kasih dispensasi boleh gak ikut datang ke pesta perpisahannya Adis. Jadi kebagian jaga rumah ama ngurus de Hafiz selama mereka berdua pergi. Wah, tampaknya Adis sudah tak sabar tuh pengen segera tampil di pentas. Sebetulnya pengen melihat juga, tapi kok capai ya, mana nanti sore juga musti ke Malang lagi. Hm, Adis cukup mengerti kenapa ayahnya gak bisa hadir.
Akhirnya, tepat jam 07.00 mereka pun berangkat. Kami berdua melepas mereka dengan senyum-senyum penuh arti. De Hafiz segera ribut pengen main sepeda. Dan akupun segera tenggelam sibuk dengan kolam koi. Masih terngiang Bunda berpesan, De' Hafiz segera dimandiin, kemudian dibuatkan sarapan. "Ah ntar dulu ah, toh anaknya juga lagi asyik puter-puter bersepeda di halaman rumah.
"Ayah, perutku lapar" tiba-tiba de Haf, di tengah keasyikanku.
"Astaga! Iya... Dah jam berapa ya...?" Aku baru tersadar kalau matahari dah mulai beranjak tinggi.
"Hayuk, tapi mandi dulu ya!" bujukku. Untung anak ini cukup mengerti. Segera de Haf, mandi. Sementara aku malah sibuk pindah-pindah channel Indovision. Sudah beberapa bulan terakhir ini, anak 4 tahun itu sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau mandi.
"Ayah, sudah!" segera aku ambilkan handuk, membungkus badan basahnya. Hm, kadang aku kagum juga sama anak-anakku. Dia sudah bisa memilih dan mengambil baju gantinya.
"Ada positif-nya juga ya, membiarkan anak-anak mulai belajar mengurus dirinya sendiri" batinku.
"Hehehe... sebetulanya agak malas aja sih." aku tertawa dalam hati.
"Hafiz makan pakai soto ya?" aku ingat ada soto sisa semalam.
Tapi rupanya anak ini tidak mau, malah minta chicken nugget.
"Wah, jadi mesti goreng dulu nih"
"Hm, mana ya? Ups ini kebetulan dah ada wajan dengan sisa minyak goreng kemarin".
Aku menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya. Sambil menunggu minyak panas, aku melanjutkan baca koran. Hafiz menonton TV, anak 4 tahun itu sudah terampil memilih acara kartun kegemarannya.
Sejurus kemudian, aku mencium seperti ada sesuatu yang terbakar. De Hafiz rupanya juga merasakan hal yang sama tetapi entah mungkin dia tidak tahu mau berkata apa.
"Astaga!!!" Aku terpekik tertahan teringat aku meninggalkan wajan sudah lama. Terbang semangatku berlari menuju dapur. Api sudah membesar menyala membakar winyak goreng dalam wajan. Setengah panik aku ambil wajan, dan aku lempar keluar melewati jendela. Mengerikan, api naik membesar mengikuti minyak yang tumpah di luar. Aku semakin panik, berlari keluar menuju kran tempat menyiram tanaman. Aku semprot sejadi-jadinya.
"Huft...", lega akhirnya padam. Tangan dan kakiku masih gemetaran membayangkan yang baru saja terjadi.
De Hafiz masih bengong sambil menyeletuk.
"Hii... ayah ceroboh sih! Jadi terbakar deh" Aku tersenyum kecut mendengar komentar polos dan jujur anakku.
"Huh, never again!"
"Hm, mana ya? Ups ini kebetulan dah ada wajan dengan sisa minyak goreng kemarin".
Aku menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya. Sambil menunggu minyak panas, aku melanjutkan baca koran. Hafiz menonton TV, anak 4 tahun itu sudah terampil memilih acara kartun kegemarannya.
Sejurus kemudian, aku mencium seperti ada sesuatu yang terbakar. De Hafiz rupanya juga merasakan hal yang sama tetapi entah mungkin dia tidak tahu mau berkata apa.
"Astaga!!!" Aku terpekik tertahan teringat aku meninggalkan wajan sudah lama. Terbang semangatku berlari menuju dapur. Api sudah membesar menyala membakar winyak goreng dalam wajan. Setengah panik aku ambil wajan, dan aku lempar keluar melewati jendela. Mengerikan, api naik membesar mengikuti minyak yang tumpah di luar. Aku semakin panik, berlari keluar menuju kran tempat menyiram tanaman. Aku semprot sejadi-jadinya.
"Huft...", lega akhirnya padam. Tangan dan kakiku masih gemetaran membayangkan yang baru saja terjadi.
De Hafiz masih bengong sambil menyeletuk.
"Hii... ayah ceroboh sih! Jadi terbakar deh" Aku tersenyum kecut mendengar komentar polos dan jujur anakku.
"Huh, never again!"