Saturday, June 19, 2010

when 2 boys leaved at home

Sabtu pagi, geliat kehidupan mulai terasa. bunda dah sibuk mempersiapkan untuk keperluan Adis ke sekolah.  Adis malah sibuk mematut-matut baju pentasnya.  Hari ini adalah perpisahan kelas-nya.  Setelah liburan panjang nanti Adis sudah naik ke TK B, sementara Hafiz baru mulai masuk TK A.  huft... tak terasa anak-anak mualai sekolah.
Abis sholat subuh, kembali 'melungker' menemani de' Hafiz berkelana di Pulau Kapuk...  Untunglah, setelah kemarin pulang larut sehabis menengok Bapak yang sedng opname di Malang.  Bunda kasih dispensasi boleh gak ikut datang ke pesta perpisahannya Adis.  Jadi kebagian jaga rumah ama ngurus de Hafiz selama mereka berdua pergi.  Wah, tampaknya Adis sudah tak sabar tuh pengen segera tampil di pentas.  Sebetulnya pengen melihat juga, tapi kok capai ya, mana nanti sore juga musti ke Malang lagi.  Hm, Adis cukup mengerti kenapa ayahnya gak bisa hadir.
Akhirnya, tepat jam 07.00 mereka pun berangkat.  Kami berdua melepas mereka dengan senyum-senyum penuh arti.  De Hafiz segera ribut pengen main sepeda.  Dan akupun segera tenggelam sibuk dengan kolam koi.  Masih terngiang Bunda berpesan, De' Hafiz segera dimandiin, kemudian dibuatkan sarapan. "Ah ntar dulu ah, toh anaknya juga lagi asyik puter-puter bersepeda di halaman rumah.
"Ayah, perutku lapar" tiba-tiba de Haf, di tengah keasyikanku.
"Astaga! Iya... Dah jam berapa ya...?"  Aku baru tersadar kalau matahari dah mulai beranjak tinggi.
"Hayuk, tapi mandi dulu ya!" bujukku. Untung anak ini cukup mengerti.  Segera de Haf, mandi.  Sementara aku malah sibuk pindah-pindah channel Indovision.  Sudah beberapa bulan terakhir ini, anak 4 tahun itu sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau mandi.
"Ayah, sudah!" segera aku ambilkan handuk, membungkus badan basahnya.  Hm, kadang aku kagum juga sama anak-anakku.  Dia sudah bisa memilih dan mengambil baju gantinya. 
"Ada positif-nya juga ya, membiarkan anak-anak mulai belajar mengurus dirinya sendiri" batinku.
"Hehehe... sebetulanya agak malas aja sih." aku tertawa dalam hati.
"Hafiz makan pakai soto ya?" aku ingat ada soto sisa semalam.
Tapi rupanya anak ini tidak mau, malah minta chicken nugget.
"Wah, jadi mesti goreng dulu nih"
"Hm, mana ya? Ups ini kebetulan dah ada wajan dengan sisa minyak goreng kemarin".
Aku menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya. Sambil menunggu minyak panas, aku melanjutkan baca koran.   Hafiz menonton TV, anak 4 tahun itu sudah terampil memilih acara kartun kegemarannya.
Sejurus kemudian, aku mencium seperti ada sesuatu yang terbakar.  De Hafiz rupanya juga merasakan hal yang sama tetapi entah mungkin dia tidak tahu mau berkata apa.
"Astaga!!!" Aku terpekik tertahan teringat aku meninggalkan wajan sudah lama.  Terbang semangatku berlari menuju dapur.  Api sudah membesar menyala membakar winyak goreng dalam wajan.  Setengah panik aku ambil wajan, dan aku lempar keluar melewati jendela.  Mengerikan, api naik membesar mengikuti minyak yang tumpah di luar.  Aku semakin panik, berlari keluar menuju kran tempat menyiram tanaman.  Aku semprot sejadi-jadinya.
"Huft...", lega akhirnya padam. Tangan dan kakiku masih gemetaran membayangkan yang baru saja terjadi.
De Hafiz masih bengong sambil menyeletuk.
"Hii... ayah ceroboh sih! Jadi terbakar deh"  Aku tersenyum kecut mendengar komentar polos dan jujur anakku.
"Huh, never again!"

Tuesday, June 15, 2010

JANGAN MENYERAH

D’Masiv – Jangan Menyerah

tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi


kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi


reff1:

syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik


tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi


repeat reff1
reff2:

Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa

repeat reff1

repeat reff2

Monday, June 14, 2010

Where is Our Football Team? (1)

Hingar bingar World Cup 2010 Afsel telah merambah ke segenap pelosok negeri.  Bagai virus yang mewabah menyapu sendi-sendi aktivitas masyarakat, terutama para penggila bola.  Bahkan juga yang pada awalnya awam masalah bola akhirnya 'terjerumus' tiba-tiba dengan fasihnya membahas masalah bola.

32 team dari 32 negara terlibat di dalamnya persaingan sengit merebut supremasi tertinggi di jagat sepak bola dunia.  Dimanakah our country?

Tidak mau kalah, ternyata sambutan di our country juga tak kalah meriah, di setiap cafe & resto tak kalah sibuknya menggelar nobar (nonton bareng).  Malah ada yang menggelar pawai menyambut event world cup.  Jadi merinding sambil membayangkan, apa jadinya jika our own team, terlibat di sana?  Pastilah bakal banyak biro-biro perjalanan yang akan mengkoordinir our  suporter ber tret-tret-tretet ke sana.  Kapan yah...? huft...

Kenyataannya, our team masih terpuruk, tertatih-tatih masih bermimpi menjadi raja di Asia Tenggara, mahkota yang terlepas sejak dekade 90 an.  Lha kapan untuk jadi Raja Asia? atau at least sebagai peserta world cup?

Ada yang salah? huh, emang bakal ada yang mau di salahkan atau mengaku salah?  Sering kita mendengar ungkapan klise, "Masak dari 200 juta penduduk our country, tidak ada 11 orang saja yang sekelas Lionel Messi atau Ronaldo?"

Rasanya juga tidak kurang-kurang our Football organization berusaha mencetak team yang handal.  Ada project Garuda I & II, Primavera, terakhir mengirim team U23 di training camp Uruguay.  Hasilnya? menyedihkan... Jangan ditanya lah, perih hati ini menjawabnya.

Big Big question, mengapa bisa menjadi begini?  Apakah hal tersebut merupakan buah ketidak sabaran kita, atau kepanikan kita melihat prestasi kita yang malah tidak maju-maju? 

(tobe continued)