Dalam kemacetan seperti ini, aku bisa mengamati apa yang terjadi di sekelilingku. Ternyata di balik kemacetan ini, ada berkah juga buat sementara orang. Para joki-joki penunjuk jalan alternative, mulai kebagian rejeki, polisi-polisi cepek, pedagang asongan. Walau sementara itu mungkin juga (semoga saja tidak benar) beberapa pengendara tentu tak kurang menggerutu melihat kondisi ini.
Perlahan namun pasti berjalan sangat lambat. Pandanganku terpaku pada beberapa pengemis wanita. Sebagian besar mereka membawa balita. Trenyuh hati ini melihat anak-anak tak
berdosa itu, sekecil itu sudah berada dalam lingkungan yang tak seharusnya untuk tumbuh dan berkembang. Mereka tertidur, bermain ditengah bising kendaraan, debu, dan panas. Entah motifasi apa yang ada di benak mereka mengapa harus membawanya ke tempat seperti ini.
Aku jadi teringat anak-anakku yang juga seusia dengan mereka, semakin perih terasa. Tak bisa melakukan sesuatu pun. Andaikan seluruh pengendara yang lewat di jalur Porong ini memberikan sedekah kepada mereka, apakah masalah ini bisa selesai...? Tak terjawab... Lalu siapakah yang bertanggung jawab kepada generasi-generasi muda itu...? Seolah terngiang kembali pelajaran PMP yg pernah aku terima, entah ini ada di UUD atau di mana; "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.." Bagaimana implementasi dari hal itu... Mengapa mereka masih banyak bertebaran di republik ini... Apa yang menghalangi implementasi dari hal itu..? Tanya tak belum terjawab hingga tak sadar jalur Porong terlewati, hingga aku bisa melaju lebih kencang. Derum mobilku meninggalkan debu-debu pertanyaan yang belum terjawab di jalur Porong pagi itu...(Dalam perjalanan Surabaya - Pandaan, di tengah kemacetan Porong)
No comments:
Post a Comment