Adalah suatu negeri elok, gemah ripah loh jinawi. Menghijau subur, ibaratnya tongkat ditancapkan tumbuh menjadi tanaman. Begitu indah negeri ini sehingga menjadi negeri idaman setiap manusia, bangsa untuk turut menikmati, mencumbui, bahkan mengeruk segala kekayaan yang ada.
Demikianlah negeri elok itu mulai menuai derita berkepanjangan, dia sendiri tak bisa merasakan kenikmatan sebagai negeri yang elok permai. Terpenjara dan terjajah. Bergelimang derita, 350 tahun dalam dekapan angkara kolonialis. Berharap putra-putri negeri ini mampu membebaskan ibu negeri dari genggaman angkara.
350 tahun berlalu dalam kesedihan dan kepedihan, tak membuat negeri ini hilang pesonanya. Kembali air mata jelita tertumpah kala sang elok diperebutkan kembali, sang saudara tua, menancapkan kuku-kuku penghisap darahnya menggoreskan lara, negeri elok ini kembali menangis, air mata berlinang menganak sungai. Memanggil kembali putra-putri penjaga negeri melepaskan belenggu penjajahan.
3.5 tahun dalam pilu, akhirnya putra sang fajar memberikan secercah harapan. Berhenti sudah air mata sang elok, menyaksikan putra-putri negeri mulai terbebas, berdiri di atas tumpuan kaki-kaki sendiri.
Kebebasan sang negeri, membuka mata para putra-putri negeri, betapa elok jelita negeri ini. Kecantikan tak lekang meski tenggelam dalam lumpur penjajahan 3.5 abad lebih. Mulailah sebagaian putra-putri negeri mengeksploitasi sang ibu negeri, menguasai untuk diri sendiri. Menyisakan sebagaian besar putra negeri lain tertinggal, tertimbun dalam penjajahan baru.
Sakit hati, cucuran air mata dikuasai bangsa lain, tidak lah sesakit dikuasai dan dikhianati putra-putri bangsa sendiri.
Negeri elok ini mulai menangis lagi, hilang harapan, kepada siapa lagi dia berharap jika putra-putri negeri ini pun mulai berlaku lebih dari seorang kolonialis....? Negeri elok ini menangis berderai-derai air matanya...menyaksikan pengkhianatan, korupsi, dan keadilan yang terjerembab...
Negeri menangis... salahkah dia tercpta penuh keindahan, keelokan dan kekayaan...???
Saturday, December 12, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment