Akhirnya gemericik air itu terdengar sudah. Setelah beberapa kali mencoba dan mencoba, menambal dan menambal, selesai sudah kolam kecil di pojok halaman depan rumah barunya. Itu adalah rumah keduanya. Di rumah pertamanya dia juga memiliki kolam ikan. Tetapi itu bukan buatan tangannya sendiri. Buatan orang lain…
Kini, senyum selalu mengembang saat dia memandang hasil karyanya. Entahlah, dia selalu berkeinginan di manapun dia tinggal, harus ada kolam ikan. Itu selalu tertanam dalam benaknya sejak dahulu kala, saat dia masih kecil.
Dia tersenyum saat teringat kolam ikan pertamanya, setelah bersusah payah membuatnya malah diobrak-abrik oleh ayam tetangga, ikan-ikan kecil nan lucu itupun habis di makan si manis yang cukup rakus jika melihat ikan. Dia cuman bisa meratapi hasil karyanya musnah begitu saja.
Ya, itu dulu… Sejak saat itu dia selalu terobsesi untuk membuat kolam yang lebih bagus dan lebih kokoh, sehingga tak ada yang bisa merusak atau mengacaukannya. Tak henti-henti dia berkeliling memandang kolam ikan itu, sekarang dia bisa membuatnya cukup kokoh, dengan tebing buatan dan air mancur. Cat warna hitam dan hijau, mengesankan warna alami. Sebuah pompa yang bisa memancarkan air, tepat di tengah kolam, dan dihubungkan juga ke celah-celah tebing. Seakan-akan air itu bersumber dari bebatuan tebing itu, gemercik jatuh menuruni lereng menuju ke kolam. Puas dia mengagumi hasil karyanya.
Sayang, kolam itu masih belum berpenghuni. Belum ada seekor ikanpun berenang-renang di sana. Dia berpikir andai dia yang berenang-renang di situ, tentu sangat menyegarkan di tengah hari yang cukup panas ini. Dia mencoba memasukkan kakinya ke dalam kolam. “Hm, segar rasanya” Sepertinya dia mulai menikmati kolam itu. Direndam kedua kakinya, tangannya… Akhirnya dia duduk bersila di dalam kolam… Matanya terpejam, seolah membayangkan dia adalah ikan penghuni kolam itu.
Kini, senyum selalu mengembang saat dia memandang hasil karyanya. Entahlah, dia selalu berkeinginan di manapun dia tinggal, harus ada kolam ikan. Itu selalu tertanam dalam benaknya sejak dahulu kala, saat dia masih kecil.
Dia tersenyum saat teringat kolam ikan pertamanya, setelah bersusah payah membuatnya malah diobrak-abrik oleh ayam tetangga, ikan-ikan kecil nan lucu itupun habis di makan si manis yang cukup rakus jika melihat ikan. Dia cuman bisa meratapi hasil karyanya musnah begitu saja.
Ya, itu dulu… Sejak saat itu dia selalu terobsesi untuk membuat kolam yang lebih bagus dan lebih kokoh, sehingga tak ada yang bisa merusak atau mengacaukannya. Tak henti-henti dia berkeliling memandang kolam ikan itu, sekarang dia bisa membuatnya cukup kokoh, dengan tebing buatan dan air mancur. Cat warna hitam dan hijau, mengesankan warna alami. Sebuah pompa yang bisa memancarkan air, tepat di tengah kolam, dan dihubungkan juga ke celah-celah tebing. Seakan-akan air itu bersumber dari bebatuan tebing itu, gemercik jatuh menuruni lereng menuju ke kolam. Puas dia mengagumi hasil karyanya.
Sayang, kolam itu masih belum berpenghuni. Belum ada seekor ikanpun berenang-renang di sana. Dia berpikir andai dia yang berenang-renang di situ, tentu sangat menyegarkan di tengah hari yang cukup panas ini. Dia mencoba memasukkan kakinya ke dalam kolam. “Hm, segar rasanya” Sepertinya dia mulai menikmati kolam itu. Direndam kedua kakinya, tangannya… Akhirnya dia duduk bersila di dalam kolam… Matanya terpejam, seolah membayangkan dia adalah ikan penghuni kolam itu.
No comments:
Post a Comment