Setiap kali memandangnya
Aku mengibaratkan memandang kuntum mawar merah
Kala itu dia yang terindah
Tumbuh diantar belukar
Begitu sulit didekati
Hanya bisa aku nikmati dari jauh
Berkali aku mencoba
Setidaknya memandang lebih dekat
Namun selalu saja belukar itu menghadang
Seakan menutup rapat jalan
Sesekali memang terlihat belukar tersibak
Bagai memberikan setapak jalan
Namun ternyata hanya fatamorgana
Belukar itu begitu rapat melindunginya
Hingga akhirnya aku pun pergi
Meninggalkan Bunga Merah itu
Membawa goresan perih
Jejak sisa kala aku memaksa menembus belukar itu.
Entah... Kapan lagi aku kembali...
Aku musti berlalu...
Friday, January 14, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment