Saturday, June 6, 2009

MAKAM IMOGIRI

Djogja pagi ini cukup ramah, mendung menggantung menabir surya. Angin sepoi dari parangtritis segar basah. Keramahan alam membawa menikmati suasana 'never ending asia' . Tanpa terasa berjalan ke selatan, menyusuri jalan-jalan lengang, sampai di kaki bukit Imogiri.

Ternyata di sinilah makam raja-raja Mataram yang cukup termashur itu. Tidak begitu jauh dari kota, sekitar 20 km ke arh tenggara Djogja. Komplek pemakaman ini dibangung pada sekitar tahun 1632 Masehi oleh Sultan Agung, raja Mataram.

Menyusuri jalan satapak menuju makam, kami bertemu dengan gerbang makam yang tampak bergaya Hindu. Masuk gerbang, terdapat masjid di sebelah kiri, ada semacam tugu jam di depan masjid. Beberapa langkah dari area masjid, mulailah berderet anak tangga menuju area pemakaman. Tangga ini cukup lebar dan cukup curam, tak kurang dari 400 anak tangga sampai ke atas. Hm, cukup lumayan membuat jantung terpacu samapai ke atas. Di sebelah kanan tangga tampak terdapat beberapa kelompok makam.

Sampai di puncak tangga, terlihat tiga tangga lagi yang masing-masing menuju komplek makam yang berbeda.Bagian tengah adalah makam Sultan Agung dan Paku Buwono I (PB I).

Tangga sebelah kanan menuju bangunan makam para sultan Kraton Yogyakarta, mulai dari Sultan Hamengku Buwono I, II, III yang disebut Kasuwargan. Disusul di sebelah kanan makam Sultan Hamengku Buwono IV,V, dan VI yang dinamakan Besiaran. Dan paling akhir di sisi paling kanan adalah makam Sultan HB VII, VIII, dan IX yang disebut Saptorenggo.

Kemudian tangga sebelah kiri berturut-turut adalah makam Sultan dari Kraton Surakarta, mulai dari PB III, hingga PB XI.

Sayang kita tidak masuk sampai ke dalam makam. Hm, saatnya menuruni tangga, ternyata cukup tinggi juga ya...

Tuesday, June 2, 2009

ARUNG JERAM (2)

MENYUSURI ARUS DERAS
Sungai Pekalen, ternyata menyimpan banyak legenda masa lalu. Konon kabarnya di sungai inilah Raja Hayam Wuruk sering menghabiskan waktu bercengkerama menikmati keindahan sungai ini.

Sungai yang terbentang diantara 3 kecamatan, Tiris, Maron, dan Gading ini bersumber dari mata air Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro. Ada dua bagian sungai ini yang digunakan route rafting, Pekalen Atas dan Pekalen Bawah. Pekalen atas mempunyai grade tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari Pekalen bawah, yaitu antara grade 3 dan 4, sedangkan pekalen bawah mempunyai grade 2. Selain itu Pekalen atas juga mempunyai pemandangan yang lebih exotis dengan tebing-tebing curam dan barisan air terjun, tak kalah menarik, di dinding-dinding tebing-tebing itu, bersarang ribuan kelelawar.

Ah, akhirnya sampailah kita di tempat start, konon kabarnya, Mahapatih Gajah Mada sering mandi di tempat ini.

Kami segera membagi diri dalam 3 perahu karet, masing-masing perahu di pandu oleh seorang instructure. Go.... segera perahu karet meluncur menyusuri air yang menggelegak, berkelok, dan menggelegak menuruni jeram dan bantuan. Sejenak ada rasa ngeri juga merasakan perahu karet terombang-ambing diantara bebatuan bahkan terkadang kami juga terlempar atau terjatuh di atas perahu saat perahu menuruni jeram yang cukum curam. Namun perlahan, setelah kita menyesuaikan diri dengan kondisi perahu yg terus bergoyang, rasa ngeri itupun berubah menjadi sensasi yang mengasikkkan. Apalagi jika berhasil melalui jeram yang cukup curam.


Jeram-jeram di jalur ini mempunyai nama-nama yang cukup unik, ada yang dinamakan jeram Indosat, jeram Titanik... Entah kenapa dinamakan seperti itu, kamu tidak sempat menanyakan itu.

Beberapa jeram telah terlewati, akhirnya kami sampai di barisan air terjun, cukup menakjubkan, benar-benar keindahan yang sempurna, menyaksikan deretan air terjun yang memanjang di atas lintasan. Perahu karetpun melintas di bawah guyuran air terjun, arus cukup tenang karena mungkin di area ini cukup dalam. Seorang kawan sempat terpelanting jatuh ketika melintas di bawah air terjun tersebut, mungkin terkejut karena tiba-tiba air mengguyur deras. Instruktur dengan sigap meraihnya dan menariknya kembali naik ke atas perahu.

Lepas dari air terjun, sejenak kita berhenti menikamati keindahan panorama, sambil sekalian bergaya... hehehe... kapan lagi ‘narsis mode ON.

Pengarungan dilanjutkan, kali ini kita akan melewati jeram Titanik yang menurut instruktur cukup curam. Kembali teriakan dan pekikan rekan menggema kala melewati jeram itu. Perahu karet terombang ambing, terkadang meluncur deras menghantam tebing sungai, sungguh mengasyikan.
Akhirnya sampailah kita di check point pertama, beberapa rekan-rekan iseng membalik perahu, kontan saja rekan yang tidak menjadi gelagapan tercebur di bawah perahu... hehehe. Di check point sudah menunggu pisang goreng hangat dan wedang jahe.... Wow, cukup nikmat, menghangatkan tubuh yang basah kuyub.

Arus mulai agak melemah ketika kita mendekati titik akhir pengarungan. Selesai..? Ternyata belum, kita diajak lagi melakukan aksi yang cukup memacu adrenalin kita, meloncat bebas dari tebing setinggi kurang lebih 5 meter di atas permukaan sungai... Segera rekan-rekan bergantian merasakan 3 detik melayang, seakan hilang kesadaran, tahu-tahu badan sudah menembus ke dalaman sungai dan muncul di permukaan....

Sampai di check point terakhir... Selesailah pengarungan ini.... Kembali ke base camp.... ;)

ooOOOoo


ARUNG JERAM (1)

MENUJU LIUKAN JERAM PEKALEN
Pukul 04.00, matahari masih belum beranjak dari peraduan, ketika 'si hijau' mulai merayap perlahan beranjak meninggalkan Surabaya. Udara dingin basah sisa hujan semalam, membuat kami agak menggigil ditambah AC si hijau. Probolinggo, itulah tujuan petualangan kali ini, tepatnya di sungai Pekalen, kami akan mencoba bagaimana nikmatnya berayun dan bermain bersama jeram-jeram di jalur arung jeram Songa atas.

Jalanan yang masih sepi, membuat kami melaju dengan lancar tanpa hambatan. Lepas dari Grati kami bertemu dengan rombongan dari Malang. Segera kami beriringan menuju base camp Songa atas, untuk bertemu dengan rombongan pertama yang sudah berangkat sejak Jumat Malam.

Santai sejenak, bertemu dengan rombongan dari Malang

Tepat setelah melewati jembatan sungai Gending yang berjarak 10 km dari kota Probolinggo, kami keluar dari jalur utama, belok ke kanan menuju Songa Atas, yang masih berjarak sekitar 13 km. Kali ini kami tidak bisa melaju kencang, karena harus melalui jalan pedesaan yg sempit, hanya cukup untuk 2 mobil berpapasan. Tepat pukul 07.45 kami sampai di Base Camp Songa atas. Dan tak berapa lama kemudian, rombongan pertama tiba dari base camp Songa Bawah. Lengkaplah kami 14 orang memulai petualangan arung jeram di Sungai Pekalen ini.


Base Camp Songa Atas

Si Hijau terparkir manis, dengan latar belakang Pick Up yang akan membawa ke titik start


Setelah dibekali dengan perlengkapan rafting; helm, life jacket, dan dayung, kami pun berangkat menuju tempat start. Perjalanan menjadi pengalaman yang cukup unik, karena kami harus naik pick up dengan bak terbuka, melalui jalan-jalan setapak yang konturnya berkelok-kelok, naik dan turun cukup curam. Sempat terpikir, bagaimana kalo pick up ini bermasalah mogok saat di tengah-tengah tanjakan. Segera saya tepiskan bayangan itu sembari melibatkan dalam canda bersama teman-teman yang lain.

Setelah terguncang-guncang di atas pick up sepanjang 1.5 km, kami pun tiba di pemberhentian, jalan sudah tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Kamipun melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki, melalui jalan setapak yang tak kalah menantangnya, berkelok dan menurun curam menuju tepi sungai, start pemberangkatan. Dayung yang kami bawa ternyata cukup berguna juga untuk meniti turunan-turunan terjal. 700 m kemudian, akhirnya sampailah kita di tepi sungai tempat perahu-perahu karet bersandar, yang siap membawa kita dalam alunan jeram yang cukup menantang... Ready to rumble.....!!! Ah, sudah tak sabar aku.

bersambung...

0ooo0

..Sebuah Akhir..

I
Pengembaraan yang seakan tiada akhir, siapa sangka, kini menemukan muaranya. Setelah dia temukan kembali jejak tapak kakinya. Hatinya mulai bergemuruh, dia rasakan... tlah dia temukan kembali sonata lama yang hilang. Dinikmati alunan mendayu itu, rasa itu, bermain, menggelitik kapiler darah di hatinya, membangkitkan kembali sebagian jiwanya yang terkubur. Dia nikmati sendiri, sendiri, hingga tak seorangpun tahu. Tidak juga dirinya.
II
Hati tak akan pernah pasti, timbul tenggelam bersama waktu, berubah warna begitu deras. Cinta dan benci seakan berbaur tanpa batas, rindu dan dendam menyatu tanpa sekat.
Sesaat hadirnya membawa harap, selangkah kemudian, kembali membuatnya terkapar. Sungguhpun dalam hatinya tiada harap untuk kembali, sebaris senyum cukuplah. Ah, mungkin hatinya terlalu berkeinginan lebih, mungkin juga terlalu manja berharap. Saat angan dan kenyataan tak sejalan, kembali melayanglah dia...
III
Akhir dari semua tak pernah sama, tatap mata yang menyejukkan tiada lagi, jalinan cerita yang penuh hasrat, berubah hambar tak bernyawa. Inikah akhir dari semua pengembaraan jiwa. Jejak-jejaknya mulai terhapus, angin dan hujan mulai menghapus memburamkan tapak langkah. Kini tiada lagi yang dia harapkan, hatinya sudah mulai menerima, dia bukan dia lagi kekasih dalam angannya. Dia bukan dia... bukan dia lagi.... Cu kup baginya, saatnya menutup buku, membungkusnya erat, mengikatnya rapat. Closed....

Thursday, May 28, 2009

Pola

...World... ternyata tidak otomatis terjadi begitu saja. Semuanya melalui suatu proses, kait-mengkait, jalin menjalin, hingga terjadi seperti apa yang kita lihat sekarang.



...Sama, apa yang kita alami saat ini, adalah juga merupakan buah tangan kita di waktu lampau. Adakalanya kita termenung, ketika baru saja mengalami suatu peristiwa, entah itu sedih atau gembira. "Andai saya tidak berangkat, tentu tidak akan mengalami hal ini...". Benarkah...? Tetapi mungkin saat kita memilih untuk berangkat, kita juga tidak tahu akibatnya akan seperti itu. Selalu ada benang merah yang bertaut, antara peristiwa kini dengan peristiwa yang telah lalu.



...Begitulah, kita berjalan, menjalani kehidupan, seolah sudah ada pola yang kita ikuti, andaikan kita memaksakan suatu pola yg kita inginkan namun sebenarnya itu bukan pola kita, selalu ada saja penghalangnya, begitu juga sebaliknya. Andai suatu pola kehidupan memang sudah menjadi garis hidup kita, pasti selalu ada saja sesuatu yang menarik kita ke arah itu.



0ooo0

Saturday, May 16, 2009

Suatu Pagi di Ulang Tahun De Hafiz

VH-13 Mei 2009-05.00, pagi-pagi De Hafiz & Teh Adis dah mulai bangun...ribut minta segera tiup lilin ultah...

Ayo..... siap-siap tiup lilin...
Lho... Kok Teh Adis yang tiup lilin...?
De Hafiz cuman bisa melihat sambil meringis...

De Hafiz jadi ngambek deee... "Kan aku dulu yg tiup..." Wah Teh Adis... Kok malah yang ngadu ke Aki.. "Aki, aku juga mau tiup lilin..."

Gantian sekarang Teh Adis yang ngambek....

Tuh, De Hafiz tiup lilin, Teteh masih ngambek...

Akhirnya... Tiup bareng aja yah... hayuxxx... biar bisa segera bisa buka kado...

Smile... sambil colek kue ultah...


Buka kadonya... "aku dapat apa ya...?"
De Hafiz dapet ucapan selamat, dari aki, nini, tante Leni, & Om Kiki...
"Aki... aku dapet cars..."
De Hafiz gembira...
"Aku dapet boneka..."
Teh Adis pun senang...

-SELAMAT ULANG TAHUN-

MUHAMMAD HAFIZ AKMAL

13 Mei 2006 - 13 Mei 2009


Wednesday, May 13, 2009

--3 Tahun De Haf--















13 Mei, 3 tahun yang lalu, ksatria sang penjaga kecilku hadir meramaikan keluarga kecil kami, melengkapi kebahagian kami. Muhammad Hafiz Akmal... Selamat ulang tahun nak... tetap tersenyum menyongsong kehidupan yang akan kautapaki setahap demi setahap. Belantara kehidupan yang akan kau hadapi akan semakin lebat dengan hal-hal yang harus kamu pelajari. Bersamamu ayah, bunda, dan teh Adis akan selalu mendapingimu, bersamamu, hingga suatu saat nanti kamu siap mengpakkan sayapmu, arungi semesta yang lebih luas... Insya Alloh.





-A-