"Andro, Bapakmu masuk rumah sakit lagi" sayup terdengar di seberang sana ibuku lirih. Aku merasakan gurat kesedihan yang tidak biasa di sana. Meskipun sudah beberapa kali beliau masuk rumah sakit, namun entahlah mengapa kali ini terasa beda. Kasihan beliau ada apa lagi dengan prostat dan jantungnya kali ini.
Sekitar setahun yang lalu, untuk pertama kalinya Bapak masuk rumah sakit, beliau mengeluh sesak napas. Kami cukup awam waktu itu, hingga tidak menyadari itu adalah gejala serangan jantung. Sejak saat itu kami mulai sedikit waspada menjaga Bapak. Meski dalam usia 76 tahun beliau masih terlihat segar dan tidak menampakkan tanda-tanda sakit.
Beberapa bulan kemudian, beliau masuk rumah sakit lagi. Kali ini ada gangguan di prostat-nya. Cukup parah, hingga terpaksa harus dilakukan operasi. Alhamdulillah operasi berhasil, dan beliau sehat kembali seperti sedia kala. Meskipun harus menjalani perawatan secara berkala, kemotherapy. Dokter menengarai ada sel-sel kanker ganas di prostatnya.
Beberapa kali Bapak keluar masuk rumah sakit, untuk therapy maupun opname karena masalah di jantungnya. Ibu dengan setia selalu menunggui beliau, karena memang Bapak merasa lebih nyaman dengan ibu.
Aku tercekat sesaat, HP masih menempel di telingaku meski beberapa saat yang lalu Ibu sudah menutup telepon. Ada rasa tidak enak menjalar di rasaku. Di saat Bapakku membutuhkan perhatian, hanya aku yang tidak ada di sampingnya, terpisah ratusan kilometer dari nya.
Bapakku, aku masih ingat sewaktu kecil, Bapakku sering mengajakku ikut dinas di kantornya. Bahkan aku pernah ikut dinas jaga malam bersamanya. Sebagai seorang staff bagian meteorologi di Lanud Abdulrahman Shaleh Malang, kadang waktu kerja-nya bisa tidak tentu, sewaktu-waktu jika ada penerbangan yang memerlukan pantauan cuaca, Bapak meski harus siap.
"Hm, Bapak..." mendesah perlahan. Segera terbayang suatu senja di tengah sawah. Bapakku menggendongku di belakang aku berdiri di atas tangannya, memegang pundaknya, bersenandung riang diantara padi-padi yang menguning. Banyak kenanganku bersamanya.
Sekarang, ratusan kilometer aku dari nya, membayangkan beliau terbaring lemah. Sesak rasa dadaku, aku harus segera pulang.
bersambung...
No comments:
Post a Comment