Jumat, 18 Juni 2010
Kembali aku meninjakkan kaki di tempat ini. Sungguh tempat yang sebenarnya tidak ingin aku datangi. Sudut-sudut dan lorong-lorong terasa begitu akrab. Sudah beberapa kali bapakku opname di sini, sehingga sedikit banyak aku mulai akrab dengan ruang-ruang dan lorong-lorong penuh aroma obat. Rona-rona letih dan kesedihan begitu terasa di setiap sudut dimana keluarga-keluarga yang sedang menugguin si sakit.
Aku sendiri, tidak tahu apa yang kurasakan, dadaku terasa mencekam. Ada rasa trauma dengan rumah sakit ini, mengingatkan aku sekitar 11 tahun yang lalu, aku pernah tergolek tak berdaya di sebuah rumah sakit di Bandung. 26 hari lamanya menjadi salah seorang pesakitan, bahkan sempat seharian tak sadarkan diri. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, agar selalu bersyukur dalam kondisi sehat, dan bersabar jika sedang mendapat cobaan.
R. Anggrek sudah didepanku, mataku berputar-putar mencari ruang 405 di mana bapakku di rawat. Sunyi, di manakah beliau. Aku kembali ke recepsionist memastikan kalau ruang itu tempat bapakku dirawat. Benar, memang beliau di sana, tetapi kemana? Kebetulan disebelahnya ada seseorang yang keluarganya sedang dirawat satu ruang dengan bapakku, aku tanyakan.
Degup jantung mulai berpacu mendengar jawabannya, bapakku sedang dipindahkan di ICU jantung. Terbang melesat semangatku bergegas ke ruang ICU. Perlahan aku memasuki ruangan, dari jauh aku melihat ibuku termenung sendiri duduk di ruang tunggu. Trenyuh hatiku, ibuku begitu setia mendampingi Bapakku lebih dari 35 tahun lama dalam suka dan duka, meniti setapak demi setapak tangga kehidupan. Contoh kesetiaan yang harus aku teladani.
Perlahan menghampiri, beliau agak terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba sudah berada tepat di depannya. Beliau menggandengku mengajak aku menemui Bapakku.
Rasa tak percaya melihat bapakku... Pilu...
bersambung...
No comments:
Post a Comment