Wednesday, December 8, 2010

Awal Dering Membeku

Melayang, itulah yang ia rasakan. Sepanjang jalan tak henti memandang sesuatu yang diberikan 'Pelangi Senja' kepadanya. Walau hanya sebuah kartu nama. Itu adalah bekal berharga untuk melanjutkan pertemuan tak sengaja itu. Semula ia sangat khawatir apabila moment pertemuan yang sangat berharga itu akan berakhir begitu saja. Waktunya begitu singkat. Kekhawatiran itu terucap begitu saja.
"Bagaimana ya setelah ini kita bisa bertemu?" gumam Rajawali.
Entah kekuatan dari mana yang menggerakkan, Rajawali pun tidak menduga reaksi seperti itu. 'Pelangi Senja' membuka tas-nya dan memberikan selembar kartu nama. Ada nama 'Pelangi Senja', tertulis manis di sana.

Kini kartu nama itu sudah berada di tangannya. Rajawali sudah berjanji untuk menelponnya saat sampai di Malang nanti. Tak jemu-jemu dia pandangi, entah sudah berapa puluh kali di baca nama yang tertera di situ "Pelangi Senja". Inilah saatnya… Ringan Rajawali menuju pesawat telepon di sudut ruang keluarga. Sejenak, memikirkan apa hendak di kata jika sudah tersambung.
"Halo" suara seseorang di seberang sana.
"Selamat pagi, saya Raja. Bisa berbicara dengan Pelangi Senja?" Rajawali mantap membuka pembicaraan.
Hening beberapa saat, Raja menunggu agak cemas. Bayangan Pelangi Senja timbul tenggelam di angannya.
"Assalamualaikum" lembut suara di seberang, bagai irama syahdu dari dawai-dawai harpa.
Terpana sang Raja, gugup tak beralasan menguasai.
"Wa'alaikum salam"
"Pelangi, ini Raja, masih ingat?" mulai tenang menghangat. Kapiler darah mulai menghangat teraliri syahdu dawai harpa.
"Masih" datar Pelangi Senja di seberang. Raja mulai salah tingkah, berusaha mencairkan beku. Ternyata dia masih bertahta di kutub utara. Ada tirai pembatas di antara meraka. Namun bukan Rajawali jika patah semangat dalam satu sandungan pertama. Masih tersungging senyum, dan kilat mata elang, dia akan terus melaju, mengejar.

-Bersambung-

No comments: