Wednesday, December 22, 2010

Rajawali Melambung

Derai tawa mulai mengalir jernih, Raja girang untuk pertama kali mendengar Pelangi tertawa, walau masih tertahan. Salju perlahan mencair. Rajawali tidak mengerti mengapa dia begitu nyaman berbicara dengan Pelangi, meski hanya dia yang selalu bercerita, sesekali melontarkan pertanyaan yang tentu saja hanya dijawab seperlunya oleh Pelangi. Dan untuk kesekian kali nya Raja menelepon Pelangi, ada nada riang di seberang, mulai ada tawa. Raja berbunga.

Memang sejak Raja kembali ke Jakarta dan Pelangi kembali ke kota hujan, Raja mulai rutin menelepon. Ada keasyikan tersendiri saat bersamanya. Tentu saja Bang Ocup penjaga wartel di dekat kost Raja, menjadi senang tiap kali Raja berkunjung. Bagaimana tidak, tiap kali menelpon, minmal 30 menit. Sampai suatu malam Bang Ocup berbaik hati menawarkan kopi segala saat Raja sedang asik mengobrol.

Semilir angin Sabtu sore itu, sejuk tak biasa, di tengah panasnya rimba Jakarta. Raja duduk santai di jendela kamar kostnya yang menghadap ke Jalan Pinang. Kamarnya yang di lantai 2 menambah nyaman. Tak biasa akhir minggu ini dia di rumah saja. Semakin tak biasa melihat kamarnya yang mulai bersih, sebagian barang-barangnya terpacking rapi, siap dikirim.

Dua minggu yang lalu Raja menerima kabar kalau dia diterima di salah satu perusahaan di Jawa Timur. Baginya 1 minggu cukup untuk menimbang dan memutuskan kembali saja ke Timur, mendekati kampung halaman. Walau dengan begitu dia harus meninggalkan gemerlap kota yang sejak kuliah dulu dicita-citakan. 'Huft, andai aku muda terus pasti aku lebih memilih di sini' ah andai saja… Raja memutus angan tak hendak melanjutkan angannya. Ada sedikit rasa sesal. Tanpa diduga Raja mempunyai kesempatan kembali ke Malang, padahal belum lama berselang jalinan cintanya dengan Rembulan Malam baru saja berakhir, kekasih yang sejak lama mengisi ruang hampanya, hanya karena jarak memisahkan. Kini saat jarak bukan menjadi kendala, semua sudah berakhir. Akankah kembali?

"P.e.l.a.n.g.i S.e.n.j.a" Raja kembali mengeja nama itu.
Nama itu menggugurkan niatnya untuk memperbaiki hubungan yang menjelang karam dengan mBulan. Sejak mengenalnya pikirannya berubah, membiarkan biduk yang sudah retak perlahan karam.

Saat di Malang, tidak sekalipun ia berusaha menemuinya. Sialnya, suatu saat Raja sedang di kantor pos, habis mengirim preparat zat kimia untuk Pelangi Senja. Kebetulan dia kesulitan mencari di Bogor. My God! Malang sempit banget, tiba-tiba mBulan juga sedang ada di warnet. Ups! jadi kaku banget benar-benar rasanya pengen menghilang di telan bumi aja.

Membingkai hari, harapan mulai melambung. Raja mulai menenun harapan, semakin tinggi. Sungguh tidak bisa dimengerti, pertemuan singkat itu benar-benar telah merubah hidupnya.  Mengalun kembali Richard Sanderson, Reality di hatinya.

Met you by surprise
I didn't realize
That my life would change forever
Saw you standing there
I didn't know I'd care
There was something
special in the air


2be continued...

No comments: