Friday, July 23, 2010

BAPAKKU (2)

Jumat, 18 Juni 2010
Kembali aku meninjakkan kaki di tempat ini. Sungguh tempat yang sebenarnya tidak ingin aku datangi. Sudut-sudut dan lorong-lorong terasa begitu akrab. Sudah beberapa kali bapakku opname di sini, sehingga sedikit banyak aku mulai akrab dengan ruang-ruang dan lorong-lorong penuh aroma obat. Rona-rona letih dan kesedihan begitu terasa di setiap sudut dimana keluarga-keluarga yang sedang menugguin si sakit.

Aku sendiri, tidak tahu apa yang kurasakan, dadaku terasa mencekam. Ada rasa trauma dengan rumah sakit ini, mengingatkan aku sekitar 11 tahun yang lalu, aku pernah tergolek tak berdaya di sebuah rumah sakit di Bandung. 26 hari lamanya menjadi salah seorang pesakitan, bahkan sempat seharian tak sadarkan diri. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, agar selalu bersyukur dalam kondisi sehat, dan bersabar jika sedang mendapat cobaan.

R. Anggrek sudah didepanku, mataku berputar-putar mencari ruang 405 di mana bapakku di rawat. Sunyi, di manakah beliau. Aku kembali ke recepsionist memastikan kalau ruang itu tempat bapakku dirawat. Benar, memang beliau di sana, tetapi kemana? Kebetulan disebelahnya ada seseorang yang keluarganya sedang dirawat satu ruang dengan bapakku, aku tanyakan.

Degup jantung mulai berpacu mendengar jawabannya, bapakku sedang dipindahkan di ICU jantung.  Terbang melesat semangatku bergegas ke ruang ICU.  Perlahan aku memasuki ruangan, dari jauh aku melihat ibuku termenung sendiri duduk di ruang tunggu.  Trenyuh hatiku, ibuku begitu setia mendampingi Bapakku lebih dari 35 tahun lama dalam suka dan duka, meniti setapak demi setapak tangga kehidupan.  Contoh kesetiaan yang harus aku teladani.

Perlahan menghampiri, beliau agak terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba sudah berada tepat di depannya.  Beliau menggandengku mengajak aku menemui Bapakku.

Rasa tak percaya melihat bapakku... Pilu...

bersambung...

Wednesday, July 14, 2010

Ridho Rhoma – Kerinduan


betapa hati rindu pada dirimu
duhai kekasihku
segeralah kembali pada diriku
duhai kekasihku

aku sudah rindu
lincah manja sikapmu
aku sangat rindu
kasih sayang darimu

semoga kita dapat bertemu lagi
seperti dahulu
supaya kita dapat bercinta lagi
seperti dahulu

gelisah, hati gelisah
sejak kepergianmu
tak sabar, hati tak sabar
menanti kedatanganmu

ku coba menantimu walau gelisah
ku kan selalu menanti
dengarkanlah kasihku, dengarlah sayang
ku ingin kau kembali

semoga kita dapat bertemu lagi
seperti dahulu
supaya kita dapat bercinta lagi
seperti dahulu

aku sudah rindu
lincah manja sikapmu
aku sangat rindu
kasih sayang darimu

semoga kita dapat bertemu lagi
seperti dahulu
supaya kita dapat bercinta lagi
seperti dahulu

Sunday, July 11, 2010

My Akmal's 1st Day at School


Siap Belajar dan Bermain... ;)

S'mangat...S'mangat, Baris Paling Depan

Main Kereta Api

Wah, Adis juga.. Dah TK B Sekarang

Monday, July 5, 2010

BAPAKKU (1)

"Andro, Bapakmu masuk rumah sakit lagi" sayup terdengar di seberang sana ibuku lirih.  Aku merasakan gurat kesedihan yang tidak biasa di sana.  Meskipun sudah beberapa kali beliau masuk rumah sakit, namun entahlah mengapa kali ini terasa beda. Kasihan beliau ada apa lagi dengan prostat dan jantungnya kali ini.

Sekitar setahun yang lalu, untuk pertama kalinya Bapak masuk rumah sakit, beliau mengeluh sesak napas.  Kami cukup awam waktu itu, hingga tidak menyadari itu adalah gejala serangan jantung.  Sejak saat itu kami mulai sedikit waspada menjaga Bapak. Meski dalam usia 76 tahun beliau masih terlihat segar dan tidak menampakkan tanda-tanda sakit.

Beberapa bulan kemudian, beliau masuk rumah sakit lagi.  Kali ini ada gangguan di prostat-nya.  Cukup parah, hingga terpaksa harus dilakukan operasi.  Alhamdulillah operasi berhasil, dan beliau sehat kembali seperti sedia kala.  Meskipun harus menjalani perawatan secara berkala, kemotherapy.  Dokter menengarai ada sel-sel kanker ganas di prostatnya.

Beberapa kali Bapak keluar masuk rumah sakit, untuk therapy maupun opname karena masalah di jantungnya.  Ibu dengan setia selalu menunggui beliau, karena memang Bapak merasa lebih nyaman dengan ibu.

Aku tercekat sesaat, HP masih menempel di telingaku meski beberapa saat yang lalu Ibu sudah menutup telepon.  Ada rasa tidak enak menjalar di rasaku.  Di saat Bapakku membutuhkan perhatian, hanya aku yang tidak ada di sampingnya, terpisah ratusan kilometer dari nya.

Bapakku, aku masih ingat sewaktu kecil, Bapakku sering mengajakku ikut dinas di kantornya.  Bahkan aku pernah ikut dinas jaga malam bersamanya.  Sebagai seorang staff bagian meteorologi di Lanud Abdulrahman Shaleh Malang, kadang waktu kerja-nya bisa tidak tentu, sewaktu-waktu jika ada penerbangan yang memerlukan pantauan cuaca, Bapak meski harus siap.

"Hm, Bapak..." mendesah perlahan. Segera terbayang suatu senja di tengah sawah. Bapakku menggendongku di belakang aku berdiri di atas tangannya, memegang pundaknya, bersenandung riang diantara padi-padi yang menguning.  Banyak kenanganku bersamanya. 

Sekarang, ratusan kilometer aku dari nya, membayangkan beliau  terbaring lemah.  Sesak rasa dadaku, aku harus segera pulang.

bersambung...

Saturday, June 19, 2010

when 2 boys leaved at home

Sabtu pagi, geliat kehidupan mulai terasa. bunda dah sibuk mempersiapkan untuk keperluan Adis ke sekolah.  Adis malah sibuk mematut-matut baju pentasnya.  Hari ini adalah perpisahan kelas-nya.  Setelah liburan panjang nanti Adis sudah naik ke TK B, sementara Hafiz baru mulai masuk TK A.  huft... tak terasa anak-anak mualai sekolah.
Abis sholat subuh, kembali 'melungker' menemani de' Hafiz berkelana di Pulau Kapuk...  Untunglah, setelah kemarin pulang larut sehabis menengok Bapak yang sedng opname di Malang.  Bunda kasih dispensasi boleh gak ikut datang ke pesta perpisahannya Adis.  Jadi kebagian jaga rumah ama ngurus de Hafiz selama mereka berdua pergi.  Wah, tampaknya Adis sudah tak sabar tuh pengen segera tampil di pentas.  Sebetulnya pengen melihat juga, tapi kok capai ya, mana nanti sore juga musti ke Malang lagi.  Hm, Adis cukup mengerti kenapa ayahnya gak bisa hadir.
Akhirnya, tepat jam 07.00 mereka pun berangkat.  Kami berdua melepas mereka dengan senyum-senyum penuh arti.  De Hafiz segera ribut pengen main sepeda.  Dan akupun segera tenggelam sibuk dengan kolam koi.  Masih terngiang Bunda berpesan, De' Hafiz segera dimandiin, kemudian dibuatkan sarapan. "Ah ntar dulu ah, toh anaknya juga lagi asyik puter-puter bersepeda di halaman rumah.
"Ayah, perutku lapar" tiba-tiba de Haf, di tengah keasyikanku.
"Astaga! Iya... Dah jam berapa ya...?"  Aku baru tersadar kalau matahari dah mulai beranjak tinggi.
"Hayuk, tapi mandi dulu ya!" bujukku. Untung anak ini cukup mengerti.  Segera de Haf, mandi.  Sementara aku malah sibuk pindah-pindah channel Indovision.  Sudah beberapa bulan terakhir ini, anak 4 tahun itu sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau mandi.
"Ayah, sudah!" segera aku ambilkan handuk, membungkus badan basahnya.  Hm, kadang aku kagum juga sama anak-anakku.  Dia sudah bisa memilih dan mengambil baju gantinya. 
"Ada positif-nya juga ya, membiarkan anak-anak mulai belajar mengurus dirinya sendiri" batinku.
"Hehehe... sebetulanya agak malas aja sih." aku tertawa dalam hati.
"Hafiz makan pakai soto ya?" aku ingat ada soto sisa semalam.
Tapi rupanya anak ini tidak mau, malah minta chicken nugget.
"Wah, jadi mesti goreng dulu nih"
"Hm, mana ya? Ups ini kebetulan dah ada wajan dengan sisa minyak goreng kemarin".
Aku menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya. Sambil menunggu minyak panas, aku melanjutkan baca koran.   Hafiz menonton TV, anak 4 tahun itu sudah terampil memilih acara kartun kegemarannya.
Sejurus kemudian, aku mencium seperti ada sesuatu yang terbakar.  De Hafiz rupanya juga merasakan hal yang sama tetapi entah mungkin dia tidak tahu mau berkata apa.
"Astaga!!!" Aku terpekik tertahan teringat aku meninggalkan wajan sudah lama.  Terbang semangatku berlari menuju dapur.  Api sudah membesar menyala membakar winyak goreng dalam wajan.  Setengah panik aku ambil wajan, dan aku lempar keluar melewati jendela.  Mengerikan, api naik membesar mengikuti minyak yang tumpah di luar.  Aku semakin panik, berlari keluar menuju kran tempat menyiram tanaman.  Aku semprot sejadi-jadinya.
"Huft...", lega akhirnya padam. Tangan dan kakiku masih gemetaran membayangkan yang baru saja terjadi.
De Hafiz masih bengong sambil menyeletuk.
"Hii... ayah ceroboh sih! Jadi terbakar deh"  Aku tersenyum kecut mendengar komentar polos dan jujur anakku.
"Huh, never again!"

Tuesday, June 15, 2010

JANGAN MENYERAH

D’Masiv – Jangan Menyerah

tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi


kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi


reff1:

syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik


tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi


repeat reff1
reff2:

Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa

repeat reff1

repeat reff2

Monday, June 14, 2010

Where is Our Football Team? (1)

Hingar bingar World Cup 2010 Afsel telah merambah ke segenap pelosok negeri.  Bagai virus yang mewabah menyapu sendi-sendi aktivitas masyarakat, terutama para penggila bola.  Bahkan juga yang pada awalnya awam masalah bola akhirnya 'terjerumus' tiba-tiba dengan fasihnya membahas masalah bola.

32 team dari 32 negara terlibat di dalamnya persaingan sengit merebut supremasi tertinggi di jagat sepak bola dunia.  Dimanakah our country?

Tidak mau kalah, ternyata sambutan di our country juga tak kalah meriah, di setiap cafe & resto tak kalah sibuknya menggelar nobar (nonton bareng).  Malah ada yang menggelar pawai menyambut event world cup.  Jadi merinding sambil membayangkan, apa jadinya jika our own team, terlibat di sana?  Pastilah bakal banyak biro-biro perjalanan yang akan mengkoordinir our  suporter ber tret-tret-tretet ke sana.  Kapan yah...? huft...

Kenyataannya, our team masih terpuruk, tertatih-tatih masih bermimpi menjadi raja di Asia Tenggara, mahkota yang terlepas sejak dekade 90 an.  Lha kapan untuk jadi Raja Asia? atau at least sebagai peserta world cup?

Ada yang salah? huh, emang bakal ada yang mau di salahkan atau mengaku salah?  Sering kita mendengar ungkapan klise, "Masak dari 200 juta penduduk our country, tidak ada 11 orang saja yang sekelas Lionel Messi atau Ronaldo?"

Rasanya juga tidak kurang-kurang our Football organization berusaha mencetak team yang handal.  Ada project Garuda I & II, Primavera, terakhir mengirim team U23 di training camp Uruguay.  Hasilnya? menyedihkan... Jangan ditanya lah, perih hati ini menjawabnya.

Big Big question, mengapa bisa menjadi begini?  Apakah hal tersebut merupakan buah ketidak sabaran kita, atau kepanikan kita melihat prestasi kita yang malah tidak maju-maju? 

(tobe continued)