Monday, August 2, 2010

Drama Komedi Piala Indonesia

Sungguh terganggu dan tidak habis pikir, menyaksikan final piala Indonesia 2010.  Hasrat dan rasa penasaran yang memuncak perlahan meluruh, seiring tidak segera dimulai-nya pertandingan babak ke 2.  Kesal, juga diiringi tanda tanya besar ada apa?  Pertandingan babak pertama begitu seru, meski diiringi gesekan dan protes pemain, hal biasa.  Penonton mendukung dengan tertib, so what?.

Di layar kaca terlihat seorang petinggi kepolisian setempat berjalan hilir mudik...  Apalagi???  Penyiar dan komentator rasanya juga tidak cukup memberikan informasi lebih jelas....  Semakin parah rasa penasaran ini.  Simpang siur... Huh.. apalagi... kedua pelatih kok seakan dibriefing... Wasit mau diganti... Juara kembar ... apalah... heran... Ini benar-benar ajaib... Bagaimana bisa... Suporter yang kecewapun tidak berusaha menghentikan pertandingan...

Huft... inilah wajah persepakbolaan negeri tercinta ini... Melihat ini, rasanya bermimpi untuk menjadi tuan rumah piala duniapun kita tak berhak ... belum layak.  Bagaimana menghadapi atau menjaga keamanan para suporter dari berbagai negara kalau menjaga suporter lokal saja sudah ada kekhawatiran yang berlebihan seperti itu.  Harus kan sportivitas dikorbankan demi menjaga supaya tidak ada keributan yang baru dugaan? Bagaimana nanti menyambut para hooligan, wuah tidak terbayang....

Kita semua belajar, saya belajar, jika tidak mulai dari sekarang belajar menyadari, di atas lapangan wasit tak terbantahkan.  Biarkan semua terjadi di lapangan, toh juga jika memang wasit terbukti bersalah akan ada komisi wasit yang akan memberikan sangsi.  Tapi biarkan dia menyelesaikan memimpin pertandingan, tanpa tekanan, tanpa intervensi.  Dan semua musti belajar menahan diri, sesungguh itulah bagian dari permainan.  

Kapan kita boleh  bermimpi menjadi taun rumah world cup? Kita semua berperan menentukan...  Jadi mari kita mulai tidur... dan membayangkan bermimpi, memimpikan tuan rumah world cup.

No comments: