Ayah...
Disaat engkau pergi...
Mataku melihat, engkau diam melepas tanda kehidupan... tapi mengapa hatiku berharap engkau hanya tidur dalam lelapmu...
Tak percaya... tapi mengapa air mata mengalir begitu saja, tanpa bisa kubendung lagi...
Pikiran mengingkari...tapi mengapa dada makin sesak terisak...
Baiknya memang harus kulepas, biar rasa yg meraja... melepas semua beban....
Padamkan pikirku sejenak... biar hati puas mengenang apa yg telah terlalui bersama...
Hingga aku berhenti mengingkari bahwa engkau benar telah pergi...
Tapi aku tahu, engkau tak benar2 pergi... Rasamu masih tersimpan di hati... Untuk suatu saat merasuki jiwa... mengenangmu... merindumu...
Tuesday, August 24, 2010
Thursday, August 19, 2010
MUNGKINKAH TERJADI
utha likumahua+trie utami
mana mungkin terjadi
mana mungkin terjalin
terpadu cinta kita berdua
mana mungkin ku dapat
mana munkin kau dapat
diriku dan dirimu menjadi satu
reff:
kau ada yang memiliki
aku ada yang memiliki
walau kita masih saling menyayangi
kau di sana, aku di sini
satu rasa dalam hati
namun hanya yang kusayangi
mungkinkah terjadi
oh adakah mentari pagi
datang menyinari diri
katakan haruskah cinta mesti terbagi
manakah mungkin ku dapat
manakah mungkin kau dapat
terpadu cinta kita berdua
repeat reff
mana mungkin terjadi
mana mungkin terjalin
terpadu cinta kita berdua
mana mungkin ku dapat
mana munkin kau dapat
diriku dan dirimu menjadi satu
reff:
kau ada yang memiliki
aku ada yang memiliki
walau kita masih saling menyayangi
kau di sana, aku di sini
satu rasa dalam hati
namun hanya yang kusayangi
mungkinkah terjadi
oh adakah mentari pagi
datang menyinari diri
katakan haruskah cinta mesti terbagi
manakah mungkin ku dapat
manakah mungkin kau dapat
terpadu cinta kita berdua
repeat reff
Tuesday, August 17, 2010
Kolam Daur Ulang
Bisakah botol-botol bekas, sendok-sendok susu bekas, filter bekas, potongan-potongan kayu, menggantikan fungsi batu bata?
Tentu saja bisa...
Beginilah jadinya, sebuah kolam Koi, dimana dinding-dindingnya disusun dari susunan barang-barang di atas sebagai pengisinya.

Tentu saja bisa...
Beginilah jadinya, sebuah kolam Koi, dimana dinding-dindingnya disusun dari susunan barang-barang di atas sebagai pengisinya.

THE GREEN'S SHOWER
Mendekati angka 5 tahun kebersamaan kita.
Ribuan kilo sudah kita jalani bersama.
Menembus panas, hujan, angin, bahkan gelap malam.
Jalanan mulus, bergelombang, berbatuan, berlumpur.
Dari Probolinggo, Madura, Jogja, hingga Bandung.
Hingga saatnya tiba, membasuh lelahmu.
Menyegarkan badanmu.
Mengharumkan aromamu.
Mandi yoook.... :)))
Ribuan kilo sudah kita jalani bersama.
Menembus panas, hujan, angin, bahkan gelap malam.
Jalanan mulus, bergelombang, berbatuan, berlumpur.
Dari Probolinggo, Madura, Jogja, hingga Bandung.
Hingga saatnya tiba, membasuh lelahmu.
Menyegarkan badanmu.
Mengharumkan aromamu.
Mandi yoook.... :)))
Tuesday, August 10, 2010
CINTA SUDAH LEWAT
Cinta Sudah Lewat
oleh: Kahitna
Kadang ingin aku bertemu
Dan berbagi waktu yang terlalui
Sukar tuk sadari
Ku tak boleh mengingini
Chorus:
Tanpa mu cinta tak berarti
Cinta sudah lewat
Tak kukira kan begini
Mengapa harus kau terikat
Meski t'lah terucap
Hanya aku yang ada di hatimu
Pernah kucoba menyisihkan
Namun hati tak rela tuk akui
Kenyataan yang ada kasih
Kau tak mungkin ada di sini
Chorus
Bila memang cinta tak harus slalu miliki
Namun nyatanya tak mudah melupakan
Chorus
Ooooo... ooo...
Tak kukira kan begini
Mengapa harus kau terikat
Meski t'lah terucap
Hanya aku yang ada di...
Hanya aku yang s'lalu di...
Hatimu.
oleh: Kahitna
Kadang ingin aku bertemu
Dan berbagi waktu yang terlalui
Sukar tuk sadari
Ku tak boleh mengingini
Chorus:
Tanpa mu cinta tak berarti
Cinta sudah lewat
Tak kukira kan begini
Mengapa harus kau terikat
Meski t'lah terucap
Hanya aku yang ada di hatimu
Pernah kucoba menyisihkan
Namun hati tak rela tuk akui
Kenyataan yang ada kasih
Kau tak mungkin ada di sini
Chorus
Bila memang cinta tak harus slalu miliki
Namun nyatanya tak mudah melupakan
Chorus
Ooooo... ooo...
Tak kukira kan begini
Mengapa harus kau terikat
Meski t'lah terucap
Hanya aku yang ada di...
Hanya aku yang s'lalu di...
Hatimu.
Monday, August 9, 2010
Akan Ada Beda
Menjelang Ramadhan 1431 H.
Aku tahu di seberang sana akan ada yang berbeda
Ibu dan adikku hanya akan melewatinya berdua
Tiada Bapak lagi diantara mereka, diantara kami...
Aku tahu di seberang sana akan ada yang berbeda
Ibu dan adikku hanya akan melewatinya berdua
Tiada Bapak lagi diantara mereka, diantara kami...
Saturday, August 7, 2010
TAKKAN TERGANTI
By: KAHITNA
Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
[*]
Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
[**]
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku
Back to [*][**] 2x
Kau tak akan terganti
Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
[*]
Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
[**]
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku
Back to [*][**] 2x
Kau tak akan terganti
Thursday, August 5, 2010
BAPAKKU (3)
Terbaring, tubuh yang dulu kokoh itu, selang oksigen menancap di hidung beliau, sementara alat monitor detak jantung terhubung di ibu jari tangannya. Jarum infus menancap di tangan yang lain.
"Bapak...!" aku mendesah tertahan. Beliau hanya berpaling sejenak selanjutnya kembali memejamkan mata. Hatiku trenyuh, melihat beliau seperti itu.
Menurut ibuku, kesadaran beliau sudah sedemikian drop. Matanya selalu terpejam, sudah tidak mau makan lagi. Apa yang bisa aku lakukan dalam kondisi seperti ini. Hatiku mendesah, dalam hati terpanjat doa berikan yang terbaik buat beliau.
REDUP CAHAYA KEHIDUPAN
19 Juni 2010, malam.
Meskipun kondisi jantung dan serapan oksigen sudah normal, namun Bapak tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Beliau terus memejamkan mata seakan lelap dalam tidur. Sungguh aku ingin beliau membuka mata dan mengatakan sesuatu pada kami. Perawat yang aku tanyai hanya mengatakan beliau tidur karena pengaruh obat. Entahlah apakah informasi itu benar atau hanya untuk menenangkan hati kami. Hanya bunyi nafas beliau yang terdengar dari masker oksigennya dan monitor detak jantung yang menunjukkan beliau masih ada.
Sesekali beliau seakan tersadar, namun sesungguhnya tidak. Sesekali terpikir juga dalam hati kecil kami, mungkin inilah saat-saat terakhir Bapak. Aku berusaha mengingkari, beliau memang sedang tertidur, berisitirahat. Namun begitu, saat kelihatan Bapak seakan tersadar, bergantian kami membisikkan kalimah syahadat dan asmaul husna. Juga kami bacakan surah yassin. Perasaan sungguh tak menentu. Malam menjadi kian panjang dan mencekam. Hening, apa kan terjadi esok, kami menunggu mukjizat, segalanya akan menjadi lebih baik.
PADAM SUDAH CAHAYA KEHIDUPAN ITU
20 Juni 2010 pagi.
"Bapak, apa yang sedang engkau rasakan
Matamu terpejam, seakan engkau lelap dalam tidurmu
Sejak kemarin belum ada makanan atau air minum yang bisa masuk
Tidakkah engkau merasa lapar atau haus?
Bapak, bukalah matamu, katakan sesuatu
Aku merindumu, tatapan matamu
Bapak..."
Masih belum ada tanda-tanda beliau akan siuman atau tersadar. Hanya bunyi napasnya berirama teratur.
Aku mencoba menenangkan keresahan, aku coba baca surah Yassin. Sampai ayat 35, suasana berubah hening... Tidak ada bunyi napas Bapakku, di monitor tidak ada angka... Terbang melayang, jantungku berdegup tak tentu... Perawat yang dipanggil mulai melakukan bantuan CPR... Namun... Innalillahi waina ilaihi rojiun... Bapakku, sudah sampai pada waktunya... Tanpa terasa air mata membuncah, sesak dada meledak berderai, sederas air mata mengalir tanpa bisa tertahan lagi. Kata-kata tiada arti lagi derai tangis kesedihan menggantikan kini... Selamat jalan Bapak... Alloh lebih menyayangimu, dan ingin engkau kembali pada Nya.
-H. Redja Gunawan-
5 Januari 1933 - 20 Juni 2010
Tamat
SELEMBUT AWAN
By: Katon Bagaskara
Cinta selembut awan
Masih tersimpan di hati
Pesonamu menawan
Ku dilanda sepi
Mengapa hanya padamu
Tercurah seluruh rasa
Hadir di setiap nafasku
Bayangmu menyapa
Meskipun ku tahu dirimu kini
Tiada lagi sendiri
Namun ku tak rela melepas segala mimpi
Oh... Mengapa hanya dirimu
Yang mampu mengisi hampa sanubari?
Kini ku mengerti
Cintaku hanya lamunan
Kisah kita berakhir
Menjadi kenangan
Cinta selembut awan
Masih tersimpan di hati
Pesonamu menawan
Ku dilanda sepi
Mengapa hanya padamu
Tercurah seluruh rasa
Hadir di setiap nafasku
Bayangmu menyapa
Meskipun ku tahu dirimu kini
Tiada lagi sendiri
Namun ku tak rela melepas segala mimpi
Oh... Mengapa hanya dirimu
Yang mampu mengisi hampa sanubari?
Kini ku mengerti
Cintaku hanya lamunan
Kisah kita berakhir
Menjadi kenangan
Monday, August 2, 2010
Drama Komedi Piala Indonesia
Sungguh terganggu dan tidak habis pikir, menyaksikan final piala Indonesia 2010. Hasrat dan rasa penasaran yang memuncak perlahan meluruh, seiring tidak segera dimulai-nya pertandingan babak ke 2. Kesal, juga diiringi tanda tanya besar ada apa? Pertandingan babak pertama begitu seru, meski diiringi gesekan dan protes pemain, hal biasa. Penonton mendukung dengan tertib, so what?.
Di layar kaca terlihat seorang petinggi kepolisian setempat berjalan hilir mudik... Apalagi??? Penyiar dan komentator rasanya juga tidak cukup memberikan informasi lebih jelas.... Semakin parah rasa penasaran ini. Simpang siur... Huh.. apalagi... kedua pelatih kok seakan dibriefing... Wasit mau diganti... Juara kembar ... apalah... heran... Ini benar-benar ajaib... Bagaimana bisa... Suporter yang kecewapun tidak berusaha menghentikan pertandingan...
Huft... inilah wajah persepakbolaan negeri tercinta ini... Melihat ini, rasanya bermimpi untuk menjadi tuan rumah piala duniapun kita tak berhak ... belum layak. Bagaimana menghadapi atau menjaga keamanan para suporter dari berbagai negara kalau menjaga suporter lokal saja sudah ada kekhawatiran yang berlebihan seperti itu. Harus kan sportivitas dikorbankan demi menjaga supaya tidak ada keributan yang baru dugaan? Bagaimana nanti menyambut para hooligan, wuah tidak terbayang....
Kita semua belajar, saya belajar, jika tidak mulai dari sekarang belajar menyadari, di atas lapangan wasit tak terbantahkan. Biarkan semua terjadi di lapangan, toh juga jika memang wasit terbukti bersalah akan ada komisi wasit yang akan memberikan sangsi. Tapi biarkan dia menyelesaikan memimpin pertandingan, tanpa tekanan, tanpa intervensi. Dan semua musti belajar menahan diri, sesungguh itulah bagian dari permainan.
Kapan kita boleh bermimpi menjadi taun rumah world cup? Kita semua berperan menentukan... Jadi mari kita mulai tidur... dan membayangkan bermimpi, memimpikan tuan rumah world cup.
Subscribe to:
Comments (Atom)






