Thursday, August 5, 2010

BAPAKKU (3)

Terbaring, tubuh yang dulu kokoh itu, selang oksigen menancap di hidung beliau, sementara alat monitor detak jantung terhubung di ibu jari tangannya.  Jarum infus menancap di tangan yang lain. 
"Bapak...!" aku mendesah tertahan.  Beliau hanya berpaling sejenak selanjutnya kembali memejamkan mata.  Hatiku trenyuh, melihat beliau seperti itu.
Menurut ibuku, kesadaran beliau sudah sedemikian drop.  Matanya selalu terpejam, sudah tidak mau makan lagi.  Apa yang bisa aku lakukan dalam kondisi seperti ini.  Hatiku mendesah, dalam hati terpanjat doa berikan yang terbaik buat beliau.
REDUP CAHAYA KEHIDUPAN
19 Juni 2010, malam.
Meskipun kondisi jantung dan serapan oksigen sudah normal, namun Bapak tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran.  Beliau terus memejamkan mata seakan lelap dalam tidur.  Sungguh aku ingin beliau membuka mata dan mengatakan sesuatu pada kami.  Perawat yang aku tanyai hanya mengatakan beliau tidur karena pengaruh obat.  Entahlah apakah informasi itu benar atau hanya untuk menenangkan hati kami.  Hanya bunyi nafas beliau yang terdengar dari masker oksigennya dan monitor detak jantung yang menunjukkan beliau masih ada.
Sesekali beliau seakan tersadar, namun sesungguhnya tidak.  Sesekali terpikir juga dalam hati kecil kami, mungkin inilah saat-saat terakhir Bapak.  Aku berusaha mengingkari, beliau memang sedang tertidur, berisitirahat.  Namun begitu, saat kelihatan Bapak seakan tersadar, bergantian kami membisikkan kalimah syahadat dan asmaul husna.  Juga kami bacakan surah yassin.  Perasaan sungguh tak menentu.  Malam menjadi kian panjang dan mencekam.  Hening, apa kan terjadi esok, kami menunggu mukjizat, segalanya akan menjadi lebih baik.
PADAM SUDAH CAHAYA KEHIDUPAN ITU
20 Juni 2010 pagi.
"Bapak, apa yang sedang engkau rasakan
Matamu terpejam, seakan engkau lelap dalam tidurmu
Sejak kemarin belum ada makanan atau air minum yang bisa masuk
Tidakkah engkau merasa lapar atau haus?
Bapak, bukalah matamu, katakan sesuatu
Aku merindumu, tatapan matamu
Bapak..."
Masih belum ada tanda-tanda beliau akan siuman atau tersadar.  Hanya bunyi napasnya berirama teratur.
Aku mencoba menenangkan keresahan, aku coba baca surah Yassin.  Sampai ayat 35, suasana berubah hening... Tidak ada bunyi napas Bapakku, di monitor tidak ada angka...  Terbang melayang, jantungku berdegup tak tentu...  Perawat yang dipanggil mulai melakukan bantuan CPR... Namun... Innalillahi waina ilaihi rojiun... Bapakku, sudah sampai pada waktunya... Tanpa terasa air mata membuncah, sesak dada meledak berderai, sederas air mata mengalir tanpa bisa tertahan lagi.   Kata-kata tiada arti lagi derai tangis kesedihan menggantikan kini... Selamat jalan Bapak... Alloh lebih menyayangimu, dan ingin engkau kembali pada Nya.


-H. Redja Gunawan-
5 Januari 1933 - 20 Juni 2010

Tamat

No comments: