PROLOG
Riuh suara stasiun kota baru segera menyergap inderaku. Rasanya belum ada perubahan begitu berarti sejak terakhir kutinggalkan 4 tahun yang lalu. Langkah kakiku perlahan membawa ku mengikuti arus penumpang bergelombang menuju pintu keluar stasiun. Pekik kerinduan terdengar di sekitarku, sapaan khas bahasa malang berbaur memenuhi ruang penjemputan.
”Jangkrik koen, yo’opo kabare? Wis suwe gak hilum rek, tambah tahes ngene cak” seorang pemuda agak dekil menjemput, mungkin kakaknya yang mungkin baru pulang dari perantauan. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.
Sampai di depan stasiun, aku tercenung ”ah akhirnya aku kembali ke Malang”. Aku membatin. Ada sedikit perih mengalir di dada. Beberapa taksi gelap dan tukang becak menawarkan mengantarkan aku. Aku berlalu begitu saja, seolah mereka tak ada. Perih di dada masih mengiris, tiap kali kuingat Malang, dan.... ”ah, aku tak sanggup menyebut namanya”.
Jika tidak ibuku menelepon ku untuk kesekian kalinya, aku tak hendak pulang. 4 tahun berlalu, rasanya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatiku. Jika tidak adikku dan calon suaminya yang meminta dan memohon kehadiranku tak akan aku pulang.
“Pulanglah Nak, sebentar saja. Kamu tentu masih ingat pesan mendiang Bapakmu” Ibuku di seberang sana.
Terdiam, melayang kembali saat-saat terakhir mendiang Bapakku. Beliau memegang tanganku dan tangan adikku disatukannya. Hanya singkat pesannya.
“Tolong gantikan Bapak melaksanakan kuwajiban terhadap adikmu” setelah itu bapakku terkulai layu, pergi untuk selamanya.
Kota tercintaku telah memberikan trauma kisah bagiku. Ragu ku melangkah, bayang-bayang suram berkelebat. ”Ah, aku begitu rapuh tak mampu menerima kenyataan itu. Hingga harus melarikan diri, mengingkari kecintaanku pada kota ini” aku mengeluh pendek. Duduk tersandar di bangku depan stasiun, sebatang A mild terjepit di jariku, asapnya perlahan mengepul, membentuk siluet-siluet wajah timbul tenggelam.
Bersambung....
Riuh suara stasiun kota baru segera menyergap inderaku. Rasanya belum ada perubahan begitu berarti sejak terakhir kutinggalkan 4 tahun yang lalu. Langkah kakiku perlahan membawa ku mengikuti arus penumpang bergelombang menuju pintu keluar stasiun. Pekik kerinduan terdengar di sekitarku, sapaan khas bahasa malang berbaur memenuhi ruang penjemputan.
”Jangkrik koen, yo’opo kabare? Wis suwe gak hilum rek, tambah tahes ngene cak” seorang pemuda agak dekil menjemput, mungkin kakaknya yang mungkin baru pulang dari perantauan. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.
Sampai di depan stasiun, aku tercenung ”ah akhirnya aku kembali ke Malang”. Aku membatin. Ada sedikit perih mengalir di dada. Beberapa taksi gelap dan tukang becak menawarkan mengantarkan aku. Aku berlalu begitu saja, seolah mereka tak ada. Perih di dada masih mengiris, tiap kali kuingat Malang, dan.... ”ah, aku tak sanggup menyebut namanya”.
Jika tidak ibuku menelepon ku untuk kesekian kalinya, aku tak hendak pulang. 4 tahun berlalu, rasanya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatiku. Jika tidak adikku dan calon suaminya yang meminta dan memohon kehadiranku tak akan aku pulang.
“Pulanglah Nak, sebentar saja. Kamu tentu masih ingat pesan mendiang Bapakmu” Ibuku di seberang sana.
Terdiam, melayang kembali saat-saat terakhir mendiang Bapakku. Beliau memegang tanganku dan tangan adikku disatukannya. Hanya singkat pesannya.
“Tolong gantikan Bapak melaksanakan kuwajiban terhadap adikmu” setelah itu bapakku terkulai layu, pergi untuk selamanya.
Kota tercintaku telah memberikan trauma kisah bagiku. Ragu ku melangkah, bayang-bayang suram berkelebat. ”Ah, aku begitu rapuh tak mampu menerima kenyataan itu. Hingga harus melarikan diri, mengingkari kecintaanku pada kota ini” aku mengeluh pendek. Duduk tersandar di bangku depan stasiun, sebatang A mild terjepit di jariku, asapnya perlahan mengepul, membentuk siluet-siluet wajah timbul tenggelam.
Bersambung....
No comments:
Post a Comment