Ada sedikit rasa bersalah, saat aku minta ijin pulang lebih awal tadi, walau sebenarnya prosedur yang aku lalui udah benar. Ini adalah kali ke tiga aku pulang, tidak biasanya seperti ini. Tahun lalu aku hanya pulang sekali pada waktu lebaran. Tentu saja, ini memang luar biasa, dan "Top Secret", aku belum bisa berterus terang, mungkin itu yang membuatku merasa bersalah.
Thursday, June 11, 2009
Suatu Senja di Stasiun Gambir
Ada sedikit rasa bersalah, saat aku minta ijin pulang lebih awal tadi, walau sebenarnya prosedur yang aku lalui udah benar. Ini adalah kali ke tiga aku pulang, tidak biasanya seperti ini. Tahun lalu aku hanya pulang sekali pada waktu lebaran. Tentu saja, ini memang luar biasa, dan "Top Secret", aku belum bisa berterus terang, mungkin itu yang membuatku merasa bersalah.
Tuesday, June 9, 2009
SEGITIGA PATAH (1)
Riuh suara stasiun kota baru segera menyergap inderaku. Rasanya belum ada perubahan begitu berarti sejak terakhir kutinggalkan 4 tahun yang lalu. Langkah kakiku perlahan membawa ku mengikuti arus penumpang bergelombang menuju pintu keluar stasiun. Pekik kerinduan terdengar di sekitarku, sapaan khas bahasa malang berbaur memenuhi ruang penjemputan.
”Jangkrik koen, yo’opo kabare? Wis suwe gak hilum rek, tambah tahes ngene cak” seorang pemuda agak dekil menjemput, mungkin kakaknya yang mungkin baru pulang dari perantauan. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.
Sampai di depan stasiun, aku tercenung ”ah akhirnya aku kembali ke Malang”. Aku membatin. Ada sedikit perih mengalir di dada. Beberapa taksi gelap dan tukang becak menawarkan mengantarkan aku. Aku berlalu begitu saja, seolah mereka tak ada. Perih di dada masih mengiris, tiap kali kuingat Malang, dan.... ”ah, aku tak sanggup menyebut namanya”.
Jika tidak ibuku menelepon ku untuk kesekian kalinya, aku tak hendak pulang. 4 tahun berlalu, rasanya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatiku. Jika tidak adikku dan calon suaminya yang meminta dan memohon kehadiranku tak akan aku pulang.
“Pulanglah Nak, sebentar saja. Kamu tentu masih ingat pesan mendiang Bapakmu” Ibuku di seberang sana.
Terdiam, melayang kembali saat-saat terakhir mendiang Bapakku. Beliau memegang tanganku dan tangan adikku disatukannya. Hanya singkat pesannya.
“Tolong gantikan Bapak melaksanakan kuwajiban terhadap adikmu” setelah itu bapakku terkulai layu, pergi untuk selamanya.
Kota tercintaku telah memberikan trauma kisah bagiku. Ragu ku melangkah, bayang-bayang suram berkelebat. ”Ah, aku begitu rapuh tak mampu menerima kenyataan itu. Hingga harus melarikan diri, mengingkari kecintaanku pada kota ini” aku mengeluh pendek. Duduk tersandar di bangku depan stasiun, sebatang A mild terjepit di jariku, asapnya perlahan mengepul, membentuk siluet-siluet wajah timbul tenggelam.
Bersambung....
Monday, June 8, 2009
Suatu Pagi ....
”Ada apa gerangan... kok banyak juga orang-orang yang kelihatannya sedang melihat sesuatu...” Si Hijau bergumam tak senang.
”Ups! benar ada kecelakaan” si Hijau memekik tertahan.
Sesosok manusia telah terbujur kaku ditutup kain...
”Di jalan sesempit dan seramai ini, masih ada juga orang yang berjibaku dan akhirnya berujung pada kematian yang sia-sia”. Si Hijau tak habis pikir.
Si Hijau meluncur lagi tersendat, lepas hilang sudah gundah, kembali ceria penuh semangat.
Akhirnya sampai juga di Rungkut Raya.... hah... lega... lancar kali ini. Dia meliuk meluncur seakan tak sabar menuju Jemursari.... Ya, dia hari akan masuk ke spa... ”hehehe” tertawa sendiri.
Sudah 75838 km, saatnya memanjakan diri, merawat diri rutin di perawatan 75000 km, ”hiks telat”. Keluh. Tapi tidak apa-apa... Huh, kebayang relaksasi bersama om-om mekanik.
”Huh, kenapa sih jarang ada mekanik wanita?” Sebal Si Hijau.
Perawatan apa ya? Hm, sepertinya padangan mataku ini yang nanti perlu diset agak tinggi, abis tiap kali pulang malam pandangan jadi agak terbatas, jadi takut-takut melaju 110 km/jam di tol. Oh ya, wiper sudah keras karetnya perlu ganti juga... Oli, dah pastilah.... horn ya...ya... kadang suka ngadat... hehehe... Jadi susah menyapa teman-teman di jalan, apalagi yang suka meleng hobby menghalangi jalan...
Ah, nikmatnya, setelah hampir 4 tahun menyusuri berbagai jalan di pulau Jawa, dari Probolinggo sampai Bandung sudah pernah dijajaki... Ada satu keinginan nih dalam waktu dekat ini, menyeberang lautan, entah ke Bali atau ke Madura... Kapan ya...
Tak terasa, sudah sampai di Spa... Santai dulu ya..... ;)
Saturday, June 6, 2009
MAKAM IMOGIRI
Ternyata di sinilah makam raja-raja Mataram yang cukup termashur itu. Tidak begitu jauh dari kota, sekitar 20 km ke arh tenggara Djogja. Komplek pemakaman ini dibangung pada sekitar tahun 1632 Masehi oleh Sultan Agung, raja Mataram.


Menyusuri jalan satapak menuju makam, kami bertemu dengan gerbang makam yang tampak bergaya Hindu. Masuk gerbang, terdapat masjid di sebelah kiri, ada semacam tugu jam di depan masjid. Beberapa langkah dari area masjid, mulailah berderet anak tangga menuju area pemakaman. Tangga ini cukup lebar dan cukup curam, tak kurang dari 400 anak tangga sampai ke atas. Hm, cukup lumayan membuat jantung terpacu samapai ke atas. Di sebelah kanan tangga tampak terdapat beberapa kelompok makam. 

Tuesday, June 2, 2009
ARUNG JERAM (2)
Sungai Pekalen, ternyata menyimpan banyak legenda masa lalu. Konon kabarnya di sungai inilah Raja Hayam Wuruk sering menghabiskan waktu bercengkerama menikmati keindahan sungai ini.
Sungai yang terbentang diantara 3 kecamatan, Tiris, Maron, dan Gading ini bersumber dari mata air Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro. Ada dua bagian sungai ini yang digunakan route rafting, Pekalen Atas dan Pekalen Bawah. Pekalen atas mempunyai grade tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari Pekalen bawah, yaitu antara grade 3 dan 4, sedangkan pekalen bawah mempunyai grade 2. Selain itu Pekalen atas juga mempunyai pemandangan yang lebih exotis dengan tebing-tebing curam dan barisan air terjun, tak kalah menarik, di dinding-dinding tebing-tebing itu, bersarang ribuan kelelawar.
Ah, akhirnya sampailah kita di tempat start, konon kabarnya, Mahapatih Gajah Mada sering mandi di tempat ini.
Kami segera membagi diri dalam 3 perahu karet, masing-masing perahu di pandu oleh seorang instructure. Go.... segera perahu karet meluncur menyusuri air yang menggelegak, berkelok, dan menggelegak menuruni jeram dan bantuan. Sejenak ada rasa ngeri juga merasakan perahu karet terombang-ambing diantara bebatuan bahkan terkadang kami juga terlempar atau terjatuh di atas perahu saat perahu menuruni jeram yang cukum curam. Namun perlahan, setelah kita menyesuaikan diri dengan kondisi perahu yg terus bergoyang, rasa ngeri itupun berubah menjadi sensasi yang mengasikkkan. Apalagi jika berhasil melalui jeram yang cukup curam.
Jeram-jeram di jalur ini mempunyai nama-nama yang cukup unik, ada yang dinamakan jeram Indosat, jeram Titanik... Entah kenapa dinamakan seperti itu, kamu tidak sempat menanyakan itu.
Beberapa jeram telah terlewati, akhirnya kami sampai di barisan air terjun, cukup menakjubkan, benar-benar keindahan yang sempurna, menyaksikan deretan air terjun yang memanjang di atas lintasan. Perahu karetpun melintas di bawah guyuran air terjun, arus cukup tenang karena mungkin di area ini cukup dalam. Seorang kawan sempat terpelanting jatuh ketika melintas di bawah air terjun tersebut, mungkin terkejut karena tiba-tiba air mengguyur deras. Instruktur dengan sigap meraihnya dan menariknya kembali naik ke atas perahu.
Lepas dari air terjun, sejenak kita berhenti menikamati keindahan panorama, sambil sekalian bergaya... hehehe... kapan lagi ‘narsis mode ON.
Pengarungan dilanjutkan, kali ini kita akan melewati jeram Titanik yang menurut instruktur cukup curam. Kembali teriakan dan pekikan rekan menggema kala melewati jeram itu. Perahu karet terombang ambing, terkadang meluncur deras menghantam tebing sungai, sungguh mengasyikan.
Akhirnya sampailah kita di check point pertama, beberapa rekan-rekan iseng membalik perahu, kontan saja rekan yang tidak menjadi gelagapan tercebur di bawah perahu... hehehe. Di check point sudah menunggu pisang goreng hangat dan wedang jahe.... Wow, cukup nikmat, menghangatkan tubuh yang basah kuyub.
Arus mulai agak melemah ketika kita mendekati titik akhir pengarungan. Selesai..? Ternyata belum, kita diajak lagi melakukan aksi yang cukup memacu adrenalin kita, meloncat bebas dari tebing setinggi kurang lebih 5 meter di atas permukaan sungai... Segera rekan-rekan bergantian merasakan 3 detik melayang, seakan hilang kesadaran, tahu-tahu badan sudah menembus ke dalaman sungai dan muncul di permukaan....
Sampai di check point terakhir... Selesailah pengarungan ini.... Kembali ke base camp.... ;)
ooOOOoo
ARUNG JERAM (1)
Santai sejenak, bertemu dengan rombongan dari Malang Tepat setelah melewati jembatan sungai Gending yang berjarak 10 km dari kota Probolinggo, kami keluar dari jalur utama, belok ke kanan menuju Songa Atas, yang masih berjarak sekitar 13 km. Kali ini kami tidak bisa melaju kencang, karena harus melalui jalan pedesaan yg sempit, hanya cukup untuk 2 mobil berpapasan. Tepat pukul 07.45 kami sampai di Base Camp Songa atas. Dan tak berapa lama kemudian, rombongan pertama tiba dari base camp Songa Bawah. Lengkaplah kami 14 orang memulai petualangan arung jeram di Sungai Pekalen ini.
Base Camp Songa Atas
Si Hijau terparkir manis, dengan latar belakang Pick Up yang akan membawa ke titik start
bersambung...
..Sebuah Akhir..
Hati tak akan pernah pasti, timbul tenggelam bersama waktu, berubah warna begitu deras. Cinta dan benci seakan berbaur tanpa batas, rindu dan dendam menyatu tanpa sekat.
Sesaat hadirnya membawa harap, selangkah kemudian, kembali membuatnya terkapar. Sungguhpun dalam hatinya tiada harap untuk kembali, sebaris senyum cukuplah. Ah, mungkin hatinya terlalu berkeinginan lebih, mungkin juga terlalu manja berharap. Saat angan dan kenyataan tak sejalan, kembali melayanglah dia...
