Thursday, June 11, 2009

Suatu Senja di Stasiun Gambir

-the inscription of love-

Ada sedikit rasa bersalah, saat aku minta ijin pulang lebih awal tadi, walau sebenarnya prosedur yang aku lalui udah benar. Ini adalah kali ke tiga aku pulang, tidak biasanya seperti ini. Tahun lalu aku hanya pulang sekali pada waktu lebaran. Tentu saja, ini memang luar biasa, dan "Top Secret", aku belum bisa berterus terang, mungkin itu yang membuatku merasa bersalah.
Dia cukup berpengaruh dalam perjalanan hidupku. Dialah orang pertama yang mengenalkan aku bagaimana memadukan idealisme dengan dunia kerja. Dia juga yang membantuku meredam kecewa ketika badai krismon sedang mengguncang, dan aku merasa menjadi orang yang terbuang. Dan, 14 bulan yang lalu dia juga yang memberikan kesempatan buatku untuk kembali. Kini, setelah kebersamaan itu, diam-diam aku mencoba meninggalkannya. Entahlah, peristiwa demi peristiwa bergulir begitu cepat tak tertahan. Rasanya tiada waktu lagi untuk bergerak lambat. Aliran itu semakin deras.
-0ooo0-
Riuh suasana Gambir segera menyergap inderaku ketika aku tiba. Beberapa orang berebut menawarkan membawakan tasku saat aku melangkah keluar dari taksi.
"Hm, Jakarta memang keras" aku tolak dengan halus, karena memang tidak terlalu berat. Wajah-wajah itu, bisa aku rasakan, kecewa. Tapi harus bagaimana lagi, aku tidak harus menuruti keinginannya.
"Ah, kenapa aku jadi naif begini, wajar saja kan kalau aku menolak jasanya". Berbisik dalam hati.
Aku bergegas menuju apron ruang tunggu. Billboard informasi menunjukkan, Gajayana masih 45 menit lagi, masih banyak waktu untuk bersantai.
"Uh!", tempat ini selalu ramai walau bukan hari libur, tak satupun tempat duduk kosong. Aku berdiri mengamati orang-orang yang berlalu-lalang, entah mereka akan pergi ke mana. Sepuluh menit berlalu, aku lihat di monitor TV, jalur 1 tempat pemberangkatan keretaku masih kosong.
"Oh God!" Getaran itu... Aliran itu... Aku rasakan semua saat pandangan mataku berlabuh pada sosok wajah, sendiri. Sesaat aku tak bisa bergerak. Aku nikmati keindahan itu. Hatiku bersenandung. Hatiku mengungkapkan puisi-puisi yg lama terpendam itu.
"Engkaulah getar-getar dawai, berdenting lirih menggetarkan jantungku, hingga terdengar degupnya.
"Engkaulah laju aliran, menghangat di dinding-dinding kapiler darahku".
"Engkau jernih, ronakan warna pelangi di senja kelabu, yg perlahan memudar."
Hatiku penuh. Tak kuasa, jatuh, aku.
"You're my destiny" lirih berbisik.
Kakiku melangkah. Pelangi senja semakin dekat. Lalu, sunyi. Telaga jernih itu memandang kosong di keramaian. Sunyi. Aku bisa dengarkan laju aliran darahku. Suara batukku terdengar sumbang. Aku tersenyum kecut. Semakin dekat.
"Ah... " tertahan.
"Maaf kosong" dia mengangguk.
Kembali sunyi.... Aku dapat rasakan jaringan otakku bekerja. Berpikir keras. Cairkan beku itu.
"Masih suka ngemil?"
"Mau coba Ritz baru"
Dia menjulurkan tangan, aku lihat simpul senyum itu...
"Mmmm, enak... lumer di mulut" senyumnya lebar.
Cair kebuntuan itu... aku tertawa riang, merdu kicau burung itu...
Aku terpengarah sesaat angan ku melambung...
"Uh", tersadar. Dia tetap membeku
Akhirnya, aku bergumam pada diriku sendiri...
"Selalu ramai ya... gak hari libur, hari kerja... selalu penuh..."
Pelangi merekah... sebaris kilau putih... hangatkan gunung es itu...
"Ah..." akhirnya....
Pelangi ku tersenyum...
Pelangiku tertawa... Pelangiku bercerita... Riangku...tak tertahan... Pelangi warnai senja ini "PELANGI SENJA"
Suara pengumuman dari pengeras suara, Buyarkan riangku. Aku lirik monitor TV, Gajayana ada di sana... Murung... Aku harus pergi... Selembar kartu nama aku genggam...
"Ini bukan yg terakhir"
Alam semakin berwarna, pelangi senja di tabir pilar-pilar samar memudar... menghilang... Beku... Diam...
Jakarta, 1 Juni 2001u/ "Pelangi Senja" Sebuah catatan perjalanan

No comments: