Friday, June 26, 2009

ACROSS SURAMADU BRIDGE

START
The sun was climbing up when we prepared to go. That day we would start an adventure to across Madura Island. Something that we had has been planned for a couple weeks before. Surely it’s being inspired of bridge Suramadu opening. The anxious to experience the longest bridge in Indonesia was un-hold able. We have had to go.
Then after passed through the busy traffic as along city side of Surabaya, we reached the main street toward bridge gate at ‘Kedung Cowek. The street looks like nice and clean, maybe caused of after repaired altogether with bridge construction.
SURAMADU BRIDGE
Arrived at entrance gate we have to pay IDR 30.000,00 for small car category. Motorcycle IDR 3.000, - and for truck and trailer IDR 45,000.00. Then we started move quickly on the smooth new highway.
A little bit surprised when we got closely to the middle picket. All cars drive in left side regulated nicely, there was not even one car at fast line in right side, that’s not usual moreover at highway, only my car at right side.
Then, after I arrived at the middle of bridge, I just knew why all cars drive on the left side, because they would to stop at the middle of bridge to take a picture or to enjoy middle section of bridge, felt the wind blows. Ah, I had thought that the driver followed the rule to drive always at the left side. By the way, at last I tempted to follow them parked my car and took some picture, enjoyed the atmosphere of middle bridge.
This bridge has 5.4 km length, spread out above Madura strait. Starting at ‘Kenjeran in Surabaya and ended at Labang Madura. This bridge that opened by President RI, Mr. Susilo Bambang Yudhoyono, fund spends about IDR 4.5 trillion. It’s realy giant project

a moment after entrance gate

toward middle 1st picket

2nd Picket

toward Madura Island

Arrived Madura

Sunday, June 21, 2009

SUNSET LOMBANG BEACH

...apa yang kau impikan Nak, tentang bola itu
adakah terpikir suatu saat dia akan menjadi pemain besar bersamanya?
belum... dia hanya tahu bola itu hanya untuk ditendang dan dikejar

terus kejar dan tendang, menuju di mana matahari tenggelam
menyibak air menampak pasir

berputar dan bergulir, kemanapun akan dikejar

tak peduli andai menuju ke samudra sekalipun

Ayolah Nak, surya mulai tenggelam
lanjutkan saja dalam mimpimu
belum saatnya sekarang
mungkin esok atau nanti
bersama bolamu merambah dunia
kapankah....? esok....

Tinggalkan saja jejak langkahmu...


Friday, June 19, 2009

Aduuuuh Malunya Akuuuu........

Suatu hari di aula sekolah Androemeda... Lagi ada sedikit kehebohan. Semua murid-murid kelas 1 dikumpulkan di sana, girang bercanda riang ama teman-teman se aula... hehe... Tidak ada pelajaran. Loh kenapa semua pada dikumpulin di aula? Yup tentu saja karena hari ini pelajaran luar sekolah, istilah kerennya, turun lapangan, praktikum... halah... yang penting acara nonton bareng. Semua murid harus menonton pemutaran film G30S PKI... Hah? Film apa tuh... Itu tuh film jadul jamannya si Androe SMP, sekitar tahun 85-86 gitulah...
Ya namanya anak-anak, (eh SMP itu kan masih anak-anak kan ya...), dikumpulkan jadi satu ya seru ribut... Dah kayak pasar tumpah...
Mr. Cars, kelimpungan dibuatnya. Pastilah.... Ada 300 lebih mulut, berbicara bersama...
”Anak-anak coba tenang sebentar...!!!!” suaranya sedang di set se bariton mungkin. ”ehem...hm... cek...cek” memenuhi segenap ruangan aula.
Sunyi senyap.... Semua mata tertuju pada stage... Mr. Cars, dengan gaya seorang rocker, mengambil mikropone dan mulai membuka acara… Hehehe… dasar anak-anak, masih juga ngedumel, berisik membicarakan polah tingkah Mr. Cars. Apalagi si Androe, melirik geli sambil menendang kaki Azam. Azam menoleh, “hush, diam diaaam” berbisik pelan.
” Tahu gak Zam, masak Mr. Cars ngaku-ngaku, sebagai pangeran Charles”.
” Tahu gak kenapa?” Adroe masih aja berbisik jahil.
”Hah?” Azam shock. ”Emang kenapa?”
”Hihihi, kok bisa?” Nugi, nimbrung. Adroe senyum-senyum jahil.
”Iyaaa, dia bilang karena namanya punya akhiran yang sama ama Lady Diana istri pangeran Charles” Androe masih berbisik...
”Kok?” Azam ama Nugi melongo.
”Iya namanya kan CarsaDI ama Lady DI...” hehehe... Androe makin jail.
Azam dan Nugi baru nyadar, terkikik agak keras....
”Hai, coba tenang yah....!” kembali Pangeran Charles, eh... Mr. Cars… memecah suara dengung ribut di aula.
“Baik kita segera berangkat ya” Mr. Cars memulai briefing.
Numpak Opo” tiba-tiba ada suara celetukan persis di belakang Adroe. Tak pelak lagi seisi aula kembali bergemuruh, 300 anak tertawa bersama.
Mr. Cars makin menggelegar, merah padam. “Ziapa itu?” Sunyi… Semua mata memandang ke arah Androe. Seakan menuduh dia lah yang melakukan itu. Androe bengong, tapi tak berdaya. Bukan dia yang melakukan, tetapi mengapa semua mata menuduhnya. Apalagi pandangan Mr. Cars menyala menghujam ke arahnya.
”Hei kamu yang bertopi! Maju ke zini kau!!!” kembali menggelegar sambil telunjuknya yang segedhe jempols menuding ke arahnya.
Androe bengong pasrah, maju... tidak... maju... ”tapi bukan aku...” keluh pelan.
Azam, menendang pelan kakinya, menunduk ”Ssst, udah maju sana, makin marah ntar dia” berbisik pelan. Nugi di sebelah kanannya terkikik tertahan.

Ups! Matanya bersirobok dengan wajah lembut Dev, seakan iba memandangnya.
”Huh, aku tidak mau kelihatan lemah di depannya” Androe membatin. Kepalang tanggung, Androe pasrah mengangkat tangan. Ia selalu ingat ajaran tentang keberanian dan rasa tanggung jawab, serta jiwa ksatria yang sering dibacanya dalam kisah-kisah pewayangan. Meskipun bukan ulahnya, tapi Androe yakin pasti salah seorang temannya yang sudah melakukan itu. Kini dia dengan gagah berani menanggung kesalahan itu. Apalagi di depan Dev cewek kelas tetangga yang sudah lama di impi-impikan.

”Kemari kau!!!” Mr. Cars masih menggelegar, melotot bagai sang Rahwana.
Teringat Sang Rama, tokoh idolanya, Androe melangkah tegap menuju stage. Dibayangkannya Sang Rama, yang maju gagah berani ke medan laga menghadapi Rahwana. Tira bagai dewi Sinta melepas dengan penuh kesedihan.
Se Aula, sunyi, harap-harap cemas menunggu apa yang terjadi pada Androe, sebagian berdesis-desis menahan tawa. Nugi, cekikikan tertahan, Azam bengong pasrah seakan tidak tega menjadi saksi ’pembantaian’ yang akan terjadi di atas sana.

Di atas Mr. Cars sudah menunggu berkacak pinggang dengan muka sangar-nya. Bulu kuduk Androe merinding, bukan karena takut... tetapi khawatir bakal kena hujan lokal nanti kalau Mr. Cars sudah mulai menyemprotnya dengan kata-kata penuh dendam karena telah mengacaukan suasana siang ini.
”Hi, kau lagi, kau lagi.... ”
”Tahu salah kau apa, hah?”
Tak banyak berkata lagi Mr. Cars merenggut topi yang di pakai Androe, menariknya ke bawah hingga menutupi mukanya.
Androe sesaat hilang kesadaran, peristiwa itu begitu cepat.
”Sudah, turun kau” Mr. Cars menghardik tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Androe melangkah turun kembali, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Dadanya seakan terhimpit sempit, apalagi saat se-aula ikut menertawakan kekonyolan di atas panggung yang baru saja terjadi.

Dengan muka merah padam androe kembali ke barisan, satu garis perang sudah digoreskan oleh Mr. Cars, ”kamu selamanya akan mengisi sisi kelam dalam hatiku” gemeletuk gigi Androe menahan marah.

Siang menjadi tak bergairah, panas penuh hawa amarah. Azam dan Nugi tak mampu menghibur gundah, sahabatnya benar-benar telah terbakar.

Saturday, June 13, 2009

PRAMBANAN TEMPLE

Everytime I go to Jogja, I never let this view. A beautiful temple, that precisely lied on the side of Main Street Solo-Jogjakarta, exactly at Prambanan village, about 20 km east of Jogjakarta.
Prambanan is the most beautiful and biggest Hindu’s temple in Indonesia. There are 3 main temples i.e.: Brahma, Wisnu, and Sywa. Unluckily when we were there, we could not get closer to the temple, because it’s under construction after earthquake of Jogjakarta May 27, 2006
.

Thursday, June 11, 2009

Suatu Senja di Stasiun Gambir

-the inscription of love-

Ada sedikit rasa bersalah, saat aku minta ijin pulang lebih awal tadi, walau sebenarnya prosedur yang aku lalui udah benar. Ini adalah kali ke tiga aku pulang, tidak biasanya seperti ini. Tahun lalu aku hanya pulang sekali pada waktu lebaran. Tentu saja, ini memang luar biasa, dan "Top Secret", aku belum bisa berterus terang, mungkin itu yang membuatku merasa bersalah.
Dia cukup berpengaruh dalam perjalanan hidupku. Dialah orang pertama yang mengenalkan aku bagaimana memadukan idealisme dengan dunia kerja. Dia juga yang membantuku meredam kecewa ketika badai krismon sedang mengguncang, dan aku merasa menjadi orang yang terbuang. Dan, 14 bulan yang lalu dia juga yang memberikan kesempatan buatku untuk kembali. Kini, setelah kebersamaan itu, diam-diam aku mencoba meninggalkannya. Entahlah, peristiwa demi peristiwa bergulir begitu cepat tak tertahan. Rasanya tiada waktu lagi untuk bergerak lambat. Aliran itu semakin deras.
-0ooo0-
Riuh suasana Gambir segera menyergap inderaku ketika aku tiba. Beberapa orang berebut menawarkan membawakan tasku saat aku melangkah keluar dari taksi.
"Hm, Jakarta memang keras" aku tolak dengan halus, karena memang tidak terlalu berat. Wajah-wajah itu, bisa aku rasakan, kecewa. Tapi harus bagaimana lagi, aku tidak harus menuruti keinginannya.
"Ah, kenapa aku jadi naif begini, wajar saja kan kalau aku menolak jasanya". Berbisik dalam hati.
Aku bergegas menuju apron ruang tunggu. Billboard informasi menunjukkan, Gajayana masih 45 menit lagi, masih banyak waktu untuk bersantai.
"Uh!", tempat ini selalu ramai walau bukan hari libur, tak satupun tempat duduk kosong. Aku berdiri mengamati orang-orang yang berlalu-lalang, entah mereka akan pergi ke mana. Sepuluh menit berlalu, aku lihat di monitor TV, jalur 1 tempat pemberangkatan keretaku masih kosong.
"Oh God!" Getaran itu... Aliran itu... Aku rasakan semua saat pandangan mataku berlabuh pada sosok wajah, sendiri. Sesaat aku tak bisa bergerak. Aku nikmati keindahan itu. Hatiku bersenandung. Hatiku mengungkapkan puisi-puisi yg lama terpendam itu.
"Engkaulah getar-getar dawai, berdenting lirih menggetarkan jantungku, hingga terdengar degupnya.
"Engkaulah laju aliran, menghangat di dinding-dinding kapiler darahku".
"Engkau jernih, ronakan warna pelangi di senja kelabu, yg perlahan memudar."
Hatiku penuh. Tak kuasa, jatuh, aku.
"You're my destiny" lirih berbisik.
Kakiku melangkah. Pelangi senja semakin dekat. Lalu, sunyi. Telaga jernih itu memandang kosong di keramaian. Sunyi. Aku bisa dengarkan laju aliran darahku. Suara batukku terdengar sumbang. Aku tersenyum kecut. Semakin dekat.
"Ah... " tertahan.
"Maaf kosong" dia mengangguk.
Kembali sunyi.... Aku dapat rasakan jaringan otakku bekerja. Berpikir keras. Cairkan beku itu.
"Masih suka ngemil?"
"Mau coba Ritz baru"
Dia menjulurkan tangan, aku lihat simpul senyum itu...
"Mmmm, enak... lumer di mulut" senyumnya lebar.
Cair kebuntuan itu... aku tertawa riang, merdu kicau burung itu...
Aku terpengarah sesaat angan ku melambung...
"Uh", tersadar. Dia tetap membeku
Akhirnya, aku bergumam pada diriku sendiri...
"Selalu ramai ya... gak hari libur, hari kerja... selalu penuh..."
Pelangi merekah... sebaris kilau putih... hangatkan gunung es itu...
"Ah..." akhirnya....
Pelangi ku tersenyum...
Pelangiku tertawa... Pelangiku bercerita... Riangku...tak tertahan... Pelangi warnai senja ini "PELANGI SENJA"
Suara pengumuman dari pengeras suara, Buyarkan riangku. Aku lirik monitor TV, Gajayana ada di sana... Murung... Aku harus pergi... Selembar kartu nama aku genggam...
"Ini bukan yg terakhir"
Alam semakin berwarna, pelangi senja di tabir pilar-pilar samar memudar... menghilang... Beku... Diam...
Jakarta, 1 Juni 2001u/ "Pelangi Senja" Sebuah catatan perjalanan

Tuesday, June 9, 2009

SEGITIGA PATAH (1)

PROLOG


Riuh suara stasiun kota baru segera menyergap inderaku. Rasanya belum ada perubahan begitu berarti sejak terakhir kutinggalkan 4 tahun yang lalu. Langkah kakiku perlahan membawa ku mengikuti arus penumpang bergelombang menuju pintu keluar stasiun. Pekik kerinduan terdengar di sekitarku, sapaan khas bahasa malang berbaur memenuhi ruang penjemputan.

”Jangkrik koen, yo’opo kabare? Wis suwe gak hilum rek, tambah tahes ngene cak” seorang pemuda agak dekil menjemput, mungkin kakaknya yang mungkin baru pulang dari perantauan. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.

Sampai di depan stasiun, aku tercenung ”ah akhirnya aku kembali ke Malang”. Aku membatin. Ada sedikit perih mengalir di dada. Beberapa taksi gelap dan tukang becak menawarkan mengantarkan aku. Aku berlalu begitu saja, seolah mereka tak ada. Perih di dada masih mengiris, tiap kali kuingat Malang, dan.... ”ah, aku tak sanggup menyebut namanya”.

Jika tidak ibuku menelepon ku untuk kesekian kalinya, aku tak hendak pulang. 4 tahun berlalu, rasanya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatiku. Jika tidak adikku dan calon suaminya yang meminta dan memohon kehadiranku tak akan aku pulang.

“Pulanglah Nak, sebentar saja. Kamu tentu masih ingat pesan mendiang Bapakmu” Ibuku di seberang sana.

Terdiam, melayang kembali saat-saat terakhir mendiang Bapakku. Beliau memegang tanganku dan tangan adikku disatukannya. Hanya singkat pesannya.

“Tolong gantikan Bapak melaksanakan kuwajiban terhadap adikmu” setelah itu bapakku terkulai layu, pergi untuk selamanya.

Kota tercintaku telah memberikan trauma kisah bagiku. Ragu ku melangkah, bayang-bayang suram berkelebat. ”Ah, aku begitu rapuh tak mampu menerima kenyataan itu. Hingga harus melarikan diri, mengingkari kecintaanku pada kota ini” aku mengeluh pendek. Duduk tersandar di bangku depan stasiun, sebatang A mild terjepit di jariku, asapnya perlahan mengepul, membentuk siluet-siluet wajah timbul tenggelam.

Bersambung....

Monday, June 8, 2009

Suatu Pagi ....

'Si Hijau di Depan Sebuah Rumah Makan di Caruban


Pagi cerah, kembali si Hijau meluncur riang melewati sepanjang boulevard meninggalkan Pondok Chandra. Sedikit terhambat di traffict line ’Giant’, dan semakin terhambat menjelang jembatan Rungkut Menanggal, dan macet....
”Ada apa gerangan... kok banyak juga orang-orang yang kelihatannya sedang melihat sesuatu...” Si Hijau bergumam tak senang.
”Ups! benar ada kecelakaan” si Hijau memekik tertahan.
Sesosok manusia telah terbujur kaku ditutup kain...
”Di jalan sesempit dan seramai ini, masih ada juga orang yang berjibaku dan akhirnya berujung pada kematian yang sia-sia”. Si Hijau tak habis pikir.
Si Hijau meluncur lagi tersendat, lepas hilang sudah gundah, kembali ceria penuh semangat.
Akhirnya sampai juga di Rungkut Raya.... hah... lega... lancar kali ini. Dia meliuk meluncur seakan tak sabar menuju Jemursari.... Ya, dia hari akan masuk ke spa... ”hehehe” tertawa sendiri.
Sudah 75838 km, saatnya memanjakan diri, merawat diri rutin di perawatan 75000 km, ”hiks telat”. Keluh. Tapi tidak apa-apa... Huh, kebayang relaksasi bersama om-om mekanik.
”Huh, kenapa sih jarang ada mekanik wanita?” Sebal Si Hijau.
Perawatan apa ya? Hm, sepertinya padangan mataku ini yang nanti perlu diset agak tinggi, abis tiap kali pulang malam pandangan jadi agak terbatas, jadi takut-takut melaju 110 km/jam di tol. Oh ya, wiper sudah keras karetnya perlu ganti juga... Oli, dah pastilah.... horn ya...ya... kadang suka ngadat... hehehe... Jadi susah menyapa teman-teman di jalan, apalagi yang suka meleng hobby menghalangi jalan...
Ah, nikmatnya, setelah hampir 4 tahun menyusuri berbagai jalan di pulau Jawa, dari Probolinggo sampai Bandung sudah pernah dijajaki... Ada satu keinginan nih dalam waktu dekat ini, menyeberang lautan, entah ke Bali atau ke Madura... Kapan ya...
Tak terasa, sudah sampai di Spa... Santai dulu ya..... ;)

Saturday, June 6, 2009

MAKAM IMOGIRI

Djogja pagi ini cukup ramah, mendung menggantung menabir surya. Angin sepoi dari parangtritis segar basah. Keramahan alam membawa menikmati suasana 'never ending asia' . Tanpa terasa berjalan ke selatan, menyusuri jalan-jalan lengang, sampai di kaki bukit Imogiri.

Ternyata di sinilah makam raja-raja Mataram yang cukup termashur itu. Tidak begitu jauh dari kota, sekitar 20 km ke arh tenggara Djogja. Komplek pemakaman ini dibangung pada sekitar tahun 1632 Masehi oleh Sultan Agung, raja Mataram.

Menyusuri jalan satapak menuju makam, kami bertemu dengan gerbang makam yang tampak bergaya Hindu. Masuk gerbang, terdapat masjid di sebelah kiri, ada semacam tugu jam di depan masjid. Beberapa langkah dari area masjid, mulailah berderet anak tangga menuju area pemakaman. Tangga ini cukup lebar dan cukup curam, tak kurang dari 400 anak tangga sampai ke atas. Hm, cukup lumayan membuat jantung terpacu samapai ke atas. Di sebelah kanan tangga tampak terdapat beberapa kelompok makam.

Sampai di puncak tangga, terlihat tiga tangga lagi yang masing-masing menuju komplek makam yang berbeda.Bagian tengah adalah makam Sultan Agung dan Paku Buwono I (PB I).

Tangga sebelah kanan menuju bangunan makam para sultan Kraton Yogyakarta, mulai dari Sultan Hamengku Buwono I, II, III yang disebut Kasuwargan. Disusul di sebelah kanan makam Sultan Hamengku Buwono IV,V, dan VI yang dinamakan Besiaran. Dan paling akhir di sisi paling kanan adalah makam Sultan HB VII, VIII, dan IX yang disebut Saptorenggo.

Kemudian tangga sebelah kiri berturut-turut adalah makam Sultan dari Kraton Surakarta, mulai dari PB III, hingga PB XI.

Sayang kita tidak masuk sampai ke dalam makam. Hm, saatnya menuruni tangga, ternyata cukup tinggi juga ya...

Tuesday, June 2, 2009

ARUNG JERAM (2)

MENYUSURI ARUS DERAS
Sungai Pekalen, ternyata menyimpan banyak legenda masa lalu. Konon kabarnya di sungai inilah Raja Hayam Wuruk sering menghabiskan waktu bercengkerama menikmati keindahan sungai ini.

Sungai yang terbentang diantara 3 kecamatan, Tiris, Maron, dan Gading ini bersumber dari mata air Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro. Ada dua bagian sungai ini yang digunakan route rafting, Pekalen Atas dan Pekalen Bawah. Pekalen atas mempunyai grade tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari Pekalen bawah, yaitu antara grade 3 dan 4, sedangkan pekalen bawah mempunyai grade 2. Selain itu Pekalen atas juga mempunyai pemandangan yang lebih exotis dengan tebing-tebing curam dan barisan air terjun, tak kalah menarik, di dinding-dinding tebing-tebing itu, bersarang ribuan kelelawar.

Ah, akhirnya sampailah kita di tempat start, konon kabarnya, Mahapatih Gajah Mada sering mandi di tempat ini.

Kami segera membagi diri dalam 3 perahu karet, masing-masing perahu di pandu oleh seorang instructure. Go.... segera perahu karet meluncur menyusuri air yang menggelegak, berkelok, dan menggelegak menuruni jeram dan bantuan. Sejenak ada rasa ngeri juga merasakan perahu karet terombang-ambing diantara bebatuan bahkan terkadang kami juga terlempar atau terjatuh di atas perahu saat perahu menuruni jeram yang cukum curam. Namun perlahan, setelah kita menyesuaikan diri dengan kondisi perahu yg terus bergoyang, rasa ngeri itupun berubah menjadi sensasi yang mengasikkkan. Apalagi jika berhasil melalui jeram yang cukup curam.


Jeram-jeram di jalur ini mempunyai nama-nama yang cukup unik, ada yang dinamakan jeram Indosat, jeram Titanik... Entah kenapa dinamakan seperti itu, kamu tidak sempat menanyakan itu.

Beberapa jeram telah terlewati, akhirnya kami sampai di barisan air terjun, cukup menakjubkan, benar-benar keindahan yang sempurna, menyaksikan deretan air terjun yang memanjang di atas lintasan. Perahu karetpun melintas di bawah guyuran air terjun, arus cukup tenang karena mungkin di area ini cukup dalam. Seorang kawan sempat terpelanting jatuh ketika melintas di bawah air terjun tersebut, mungkin terkejut karena tiba-tiba air mengguyur deras. Instruktur dengan sigap meraihnya dan menariknya kembali naik ke atas perahu.

Lepas dari air terjun, sejenak kita berhenti menikamati keindahan panorama, sambil sekalian bergaya... hehehe... kapan lagi ‘narsis mode ON.

Pengarungan dilanjutkan, kali ini kita akan melewati jeram Titanik yang menurut instruktur cukup curam. Kembali teriakan dan pekikan rekan menggema kala melewati jeram itu. Perahu karet terombang ambing, terkadang meluncur deras menghantam tebing sungai, sungguh mengasyikan.
Akhirnya sampailah kita di check point pertama, beberapa rekan-rekan iseng membalik perahu, kontan saja rekan yang tidak menjadi gelagapan tercebur di bawah perahu... hehehe. Di check point sudah menunggu pisang goreng hangat dan wedang jahe.... Wow, cukup nikmat, menghangatkan tubuh yang basah kuyub.

Arus mulai agak melemah ketika kita mendekati titik akhir pengarungan. Selesai..? Ternyata belum, kita diajak lagi melakukan aksi yang cukup memacu adrenalin kita, meloncat bebas dari tebing setinggi kurang lebih 5 meter di atas permukaan sungai... Segera rekan-rekan bergantian merasakan 3 detik melayang, seakan hilang kesadaran, tahu-tahu badan sudah menembus ke dalaman sungai dan muncul di permukaan....

Sampai di check point terakhir... Selesailah pengarungan ini.... Kembali ke base camp.... ;)

ooOOOoo


ARUNG JERAM (1)

MENUJU LIUKAN JERAM PEKALEN
Pukul 04.00, matahari masih belum beranjak dari peraduan, ketika 'si hijau' mulai merayap perlahan beranjak meninggalkan Surabaya. Udara dingin basah sisa hujan semalam, membuat kami agak menggigil ditambah AC si hijau. Probolinggo, itulah tujuan petualangan kali ini, tepatnya di sungai Pekalen, kami akan mencoba bagaimana nikmatnya berayun dan bermain bersama jeram-jeram di jalur arung jeram Songa atas.

Jalanan yang masih sepi, membuat kami melaju dengan lancar tanpa hambatan. Lepas dari Grati kami bertemu dengan rombongan dari Malang. Segera kami beriringan menuju base camp Songa atas, untuk bertemu dengan rombongan pertama yang sudah berangkat sejak Jumat Malam.

Santai sejenak, bertemu dengan rombongan dari Malang

Tepat setelah melewati jembatan sungai Gending yang berjarak 10 km dari kota Probolinggo, kami keluar dari jalur utama, belok ke kanan menuju Songa Atas, yang masih berjarak sekitar 13 km. Kali ini kami tidak bisa melaju kencang, karena harus melalui jalan pedesaan yg sempit, hanya cukup untuk 2 mobil berpapasan. Tepat pukul 07.45 kami sampai di Base Camp Songa atas. Dan tak berapa lama kemudian, rombongan pertama tiba dari base camp Songa Bawah. Lengkaplah kami 14 orang memulai petualangan arung jeram di Sungai Pekalen ini.


Base Camp Songa Atas

Si Hijau terparkir manis, dengan latar belakang Pick Up yang akan membawa ke titik start


Setelah dibekali dengan perlengkapan rafting; helm, life jacket, dan dayung, kami pun berangkat menuju tempat start. Perjalanan menjadi pengalaman yang cukup unik, karena kami harus naik pick up dengan bak terbuka, melalui jalan-jalan setapak yang konturnya berkelok-kelok, naik dan turun cukup curam. Sempat terpikir, bagaimana kalo pick up ini bermasalah mogok saat di tengah-tengah tanjakan. Segera saya tepiskan bayangan itu sembari melibatkan dalam canda bersama teman-teman yang lain.

Setelah terguncang-guncang di atas pick up sepanjang 1.5 km, kami pun tiba di pemberhentian, jalan sudah tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Kamipun melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki, melalui jalan setapak yang tak kalah menantangnya, berkelok dan menurun curam menuju tepi sungai, start pemberangkatan. Dayung yang kami bawa ternyata cukup berguna juga untuk meniti turunan-turunan terjal. 700 m kemudian, akhirnya sampailah kita di tepi sungai tempat perahu-perahu karet bersandar, yang siap membawa kita dalam alunan jeram yang cukup menantang... Ready to rumble.....!!! Ah, sudah tak sabar aku.

bersambung...

0ooo0

..Sebuah Akhir..

I
Pengembaraan yang seakan tiada akhir, siapa sangka, kini menemukan muaranya. Setelah dia temukan kembali jejak tapak kakinya. Hatinya mulai bergemuruh, dia rasakan... tlah dia temukan kembali sonata lama yang hilang. Dinikmati alunan mendayu itu, rasa itu, bermain, menggelitik kapiler darah di hatinya, membangkitkan kembali sebagian jiwanya yang terkubur. Dia nikmati sendiri, sendiri, hingga tak seorangpun tahu. Tidak juga dirinya.
II
Hati tak akan pernah pasti, timbul tenggelam bersama waktu, berubah warna begitu deras. Cinta dan benci seakan berbaur tanpa batas, rindu dan dendam menyatu tanpa sekat.
Sesaat hadirnya membawa harap, selangkah kemudian, kembali membuatnya terkapar. Sungguhpun dalam hatinya tiada harap untuk kembali, sebaris senyum cukuplah. Ah, mungkin hatinya terlalu berkeinginan lebih, mungkin juga terlalu manja berharap. Saat angan dan kenyataan tak sejalan, kembali melayanglah dia...
III
Akhir dari semua tak pernah sama, tatap mata yang menyejukkan tiada lagi, jalinan cerita yang penuh hasrat, berubah hambar tak bernyawa. Inikah akhir dari semua pengembaraan jiwa. Jejak-jejaknya mulai terhapus, angin dan hujan mulai menghapus memburamkan tapak langkah. Kini tiada lagi yang dia harapkan, hatinya sudah mulai menerima, dia bukan dia lagi kekasih dalam angannya. Dia bukan dia... bukan dia lagi.... Cu kup baginya, saatnya menutup buku, membungkusnya erat, mengikatnya rapat. Closed....