Suatu hari di aula sekolah Androemeda... Lagi ada sedikit kehebohan. Semua murid-murid kelas 1 dikumpulkan di sana, girang bercanda riang ama teman-teman se aula... hehe... Tidak ada pelajaran. Loh kenapa semua pada dikumpulin di aula? Yup tentu saja karena hari ini pelajaran luar sekolah, istilah kerennya, turun lapangan, praktikum... halah... yang penting acara nonton bareng. Semua murid harus menonton pemutaran film G30S PKI... Hah? Film apa tuh... Itu tuh film jadul jamannya si Androe SMP, sekitar tahun 85-86 gitulah...
Ya namanya anak-anak, (eh SMP itu kan masih anak-anak kan ya...), dikumpulkan jadi satu ya seru ribut... Dah kayak pasar tumpah...
Mr. Cars, kelimpungan dibuatnya. Pastilah.... Ada 300 lebih mulut, berbicara bersama...
”Anak-anak coba tenang sebentar...!!!!” suaranya sedang di set se bariton mungkin. ”ehem...hm... cek...cek” memenuhi segenap ruangan aula.
Sunyi senyap.... Semua mata tertuju pada stage... Mr. Cars, dengan gaya seorang rocker, mengambil mikropone dan mulai membuka acara… Hehehe… dasar anak-anak, masih juga ngedumel, berisik membicarakan polah tingkah Mr. Cars. Apalagi si Androe, melirik geli sambil menendang kaki Azam. Azam menoleh, “hush, diam diaaam” berbisik pelan.
” Tahu gak Zam, masak Mr. Cars ngaku-ngaku, sebagai pangeran Charles”.
” Tahu gak kenapa?” Adroe masih aja berbisik jahil.
”Hah?” Azam shock. ”Emang kenapa?”
”Hihihi, kok bisa?” Nugi, nimbrung. Adroe senyum-senyum jahil.
”Iyaaa, dia bilang karena namanya punya akhiran yang sama ama Lady Diana istri pangeran Charles” Androe masih berbisik...
”Kok?” Azam ama Nugi melongo.
”Iya namanya kan CarsaDI ama Lady DI...” hehehe... Androe makin jail.
Azam dan Nugi baru nyadar, terkikik agak keras....
”Hai, coba tenang yah....!” kembali Pangeran Charles, eh... Mr. Cars… memecah suara dengung ribut di aula.
“Baik kita segera berangkat ya” Mr. Cars memulai briefing.
”Numpak Opo” tiba-tiba ada suara celetukan persis di belakang Adroe. Tak pelak lagi seisi aula kembali bergemuruh, 300 anak tertawa bersama.
Mr. Cars makin menggelegar, merah padam. “Ziapa itu?” Sunyi… Semua mata memandang ke arah Androe. Seakan menuduh dia lah yang melakukan itu. Androe bengong, tapi tak berdaya. Bukan dia yang melakukan, tetapi mengapa semua mata menuduhnya. Apalagi pandangan Mr. Cars menyala menghujam ke arahnya.
”Hei kamu yang bertopi! Maju ke zini kau!!!” kembali menggelegar sambil telunjuknya yang segedhe jempols menuding ke arahnya.
Androe bengong pasrah, maju... tidak... maju... ”tapi bukan aku...” keluh pelan.
Azam, menendang pelan kakinya, menunduk ”Ssst, udah maju sana, makin marah ntar dia” berbisik pelan. Nugi di sebelah kanannya terkikik tertahan.
Mr. Cars, kelimpungan dibuatnya. Pastilah.... Ada 300 lebih mulut, berbicara bersama...
”Anak-anak coba tenang sebentar...!!!!” suaranya sedang di set se bariton mungkin. ”ehem...hm... cek...cek” memenuhi segenap ruangan aula.
Sunyi senyap.... Semua mata tertuju pada stage... Mr. Cars, dengan gaya seorang rocker, mengambil mikropone dan mulai membuka acara… Hehehe… dasar anak-anak, masih juga ngedumel, berisik membicarakan polah tingkah Mr. Cars. Apalagi si Androe, melirik geli sambil menendang kaki Azam. Azam menoleh, “hush, diam diaaam” berbisik pelan.
” Tahu gak Zam, masak Mr. Cars ngaku-ngaku, sebagai pangeran Charles”.
” Tahu gak kenapa?” Adroe masih aja berbisik jahil.
”Hah?” Azam shock. ”Emang kenapa?”
”Hihihi, kok bisa?” Nugi, nimbrung. Adroe senyum-senyum jahil.
”Iyaaa, dia bilang karena namanya punya akhiran yang sama ama Lady Diana istri pangeran Charles” Androe masih berbisik...
”Kok?” Azam ama Nugi melongo.
”Iya namanya kan CarsaDI ama Lady DI...” hehehe... Androe makin jail.
Azam dan Nugi baru nyadar, terkikik agak keras....
”Hai, coba tenang yah....!” kembali Pangeran Charles, eh... Mr. Cars… memecah suara dengung ribut di aula.
“Baik kita segera berangkat ya” Mr. Cars memulai briefing.
”Numpak Opo” tiba-tiba ada suara celetukan persis di belakang Adroe. Tak pelak lagi seisi aula kembali bergemuruh, 300 anak tertawa bersama.
Mr. Cars makin menggelegar, merah padam. “Ziapa itu?” Sunyi… Semua mata memandang ke arah Androe. Seakan menuduh dia lah yang melakukan itu. Androe bengong, tapi tak berdaya. Bukan dia yang melakukan, tetapi mengapa semua mata menuduhnya. Apalagi pandangan Mr. Cars menyala menghujam ke arahnya.
”Hei kamu yang bertopi! Maju ke zini kau!!!” kembali menggelegar sambil telunjuknya yang segedhe jempols menuding ke arahnya.
Androe bengong pasrah, maju... tidak... maju... ”tapi bukan aku...” keluh pelan.
Azam, menendang pelan kakinya, menunduk ”Ssst, udah maju sana, makin marah ntar dia” berbisik pelan. Nugi di sebelah kanannya terkikik tertahan.
Ups! Matanya bersirobok dengan wajah lembut Dev, seakan iba memandangnya.
”Huh, aku tidak mau kelihatan lemah di depannya” Androe membatin. Kepalang tanggung, Androe pasrah mengangkat tangan. Ia selalu ingat ajaran tentang keberanian dan rasa tanggung jawab, serta jiwa ksatria yang sering dibacanya dalam kisah-kisah pewayangan. Meskipun bukan ulahnya, tapi Androe yakin pasti salah seorang temannya yang sudah melakukan itu. Kini dia dengan gagah berani menanggung kesalahan itu. Apalagi di depan Dev cewek kelas tetangga yang sudah lama di impi-impikan.
”Kemari kau!!!” Mr. Cars masih menggelegar, melotot bagai sang Rahwana.
Teringat Sang Rama, tokoh idolanya, Androe melangkah tegap menuju stage. Dibayangkannya Sang Rama, yang maju gagah berani ke medan laga menghadapi Rahwana. Tira bagai dewi Sinta melepas dengan penuh kesedihan.
Se Aula, sunyi, harap-harap cemas menunggu apa yang terjadi pada Androe, sebagian berdesis-desis menahan tawa. Nugi, cekikikan tertahan, Azam bengong pasrah seakan tidak tega menjadi saksi ’pembantaian’ yang akan terjadi di atas sana.
Di atas Mr. Cars sudah menunggu berkacak pinggang dengan muka sangar-nya. Bulu kuduk Androe merinding, bukan karena takut... tetapi khawatir bakal kena hujan lokal nanti kalau Mr. Cars sudah mulai menyemprotnya dengan kata-kata penuh dendam karena telah mengacaukan suasana siang ini.
”Hi, kau lagi, kau lagi.... ”
”Tahu salah kau apa, hah?”
Tak banyak berkata lagi Mr. Cars merenggut topi yang di pakai Androe, menariknya ke bawah hingga menutupi mukanya.
Androe sesaat hilang kesadaran, peristiwa itu begitu cepat.
”Sudah, turun kau” Mr. Cars menghardik tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Androe melangkah turun kembali, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Dadanya seakan terhimpit sempit, apalagi saat se-aula ikut menertawakan kekonyolan di atas panggung yang baru saja terjadi.
Dengan muka merah padam androe kembali ke barisan, satu garis perang sudah digoreskan oleh Mr. Cars, ”kamu selamanya akan mengisi sisi kelam dalam hatiku” gemeletuk gigi Androe menahan marah.
Siang menjadi tak bergairah, panas penuh hawa amarah. Azam dan Nugi tak mampu menghibur gundah, sahabatnya benar-benar telah terbakar.
No comments:
Post a Comment