Thursday, December 31, 2009
TOMORROW
Tuesday, December 29, 2009
Always
REALITY
Saturday, December 19, 2009
Hasil Imbang Arema masih di Puncak
Bertanding tanpa penonton, mempengaruhi ritme permaina Arema, ditambah lagi beberapa pemain kunci tidak bisa bertanding atau sedang di rotasi oleh pelatih Rene Albert.
Minim sekali tendangan-tendangan yang mengarah ke gawang Persib, kalaupun ada tidak begitu membahayakan gawang Sinthaweechai Hathairattanakool yang bermain cukup gemilang.
Masuknya M Ridwan, tidak juga bisa merubah keadaan, serangan-serangan Arema masih kurang menggigit. Kendatipun Persib hanya bermain dengan 10 pemain, menyusul kartu merah yang dikeluarkan wasit untuk Hilton Moreira menit 86, keadaan tetap tidak berubah hingga peluit panjang dibunyikan.
PR untuk team Arema, untuk pertandingan-pertandingan yang akan datang agar tampil lebih agresif. Kebijakan rotasi pemain patut diacungi jempol, mengingat perjalanan kompetisi yang masih panjang, yang pasti akan menguras tenaga, sehingga diperlukan starting team dan bench yang tidak berbeda kemampuannya. Go ... Arema... Go... (asheva).
Saturday, December 12, 2009
Negeri Menangis
Demikianlah negeri elok itu mulai menuai derita berkepanjangan, dia sendiri tak bisa merasakan kenikmatan sebagai negeri yang elok permai. Terpenjara dan terjajah. Bergelimang derita, 350 tahun dalam dekapan angkara kolonialis. Berharap putra-putri negeri ini mampu membebaskan ibu negeri dari genggaman angkara.
350 tahun berlalu dalam kesedihan dan kepedihan, tak membuat negeri ini hilang pesonanya. Kembali air mata jelita tertumpah kala sang elok diperebutkan kembali, sang saudara tua, menancapkan kuku-kuku penghisap darahnya menggoreskan lara, negeri elok ini kembali menangis, air mata berlinang menganak sungai. Memanggil kembali putra-putri penjaga negeri melepaskan belenggu penjajahan.
3.5 tahun dalam pilu, akhirnya putra sang fajar memberikan secercah harapan. Berhenti sudah air mata sang elok, menyaksikan putra-putri negeri mulai terbebas, berdiri di atas tumpuan kaki-kaki sendiri.
Kebebasan sang negeri, membuka mata para putra-putri negeri, betapa elok jelita negeri ini. Kecantikan tak lekang meski tenggelam dalam lumpur penjajahan 3.5 abad lebih. Mulailah sebagaian putra-putri negeri mengeksploitasi sang ibu negeri, menguasai untuk diri sendiri. Menyisakan sebagaian besar putra negeri lain tertinggal, tertimbun dalam penjajahan baru.
Sakit hati, cucuran air mata dikuasai bangsa lain, tidak lah sesakit dikuasai dan dikhianati putra-putri bangsa sendiri.
Negeri elok ini mulai menangis lagi, hilang harapan, kepada siapa lagi dia berharap jika putra-putri negeri ini pun mulai berlaku lebih dari seorang kolonialis....? Negeri elok ini menangis berderai-derai air matanya...menyaksikan pengkhianatan, korupsi, dan keadilan yang terjerembab...
Negeri menangis... salahkah dia tercpta penuh keindahan, keelokan dan kekayaan...???
Matchday-9 AREMA kukuh di puncak klasemen
Hasil pertandingan sore ini, semakin mengukuhkan Arema Indonesia di puncak klasemen. Selain itu Arema juga menjadi satu-satunya team yang belum terkalahkan hingga matchday ke 9. Hasil tersebut diperoleh setelah mengalahkan tuan rumah Persijap 0-1. Gol semata wayang Arema dicetak oleh Nooh Alam shah, legiun asing dari Singapura melalui titik putih, menyusul hands ball yang dilakukan pemain belakang Persijap. (asheva)
Friday, November 27, 2009
Ied Mubarak
Allohu Akbar...Allohu Akbar...Allohu Akbar...Kembali melayang saat-saat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail...
Deretan mobil yang terparkir sudah mengular ketika kami tiba, meski waktu masih menunjukkan 05.30. Deretan shaft tertata rapi sudah penuh setengahnya.

Sunday, November 8, 2009
Being Obsessed
I could not take a look on you, moreover when you asked me what I was in class of IF. Your incredible enchantment, touching my heart, till nothing word could say to answer you. I could never forget that moment. I enjoy second by second that moment make me feel being obsessed, it’s like breathe with opium.
Now time passing by, roll on, bring me to the different time and place cycle, but, your bright eyes still appear in my mind occasionally. How could I find you again, the bright eyes?
Friday, November 6, 2009
Tinggalkan Saja Jejakmu.

Pada suatu cakrawala, kulambungkan pandangan. Langit dan bumi seakan menyatu, bertaut berjabat tangan.
Pada suatu cakrawala, kulambungkan tatapan. Pada mega mendung tergantung. Tangan-tangan seakan bisa meraihnya.
Kembali dari pantai ini, titik di mana lidah gelombang memecah di pasir putih, beriak bergaris-garis, tinggalkan pasir putih bergulung luruh.
Kugoreskan kesekian kalinya jejak kakiku, walau tak lama akan hilang disapu gelombang. Jika suatu saat aku kembali, akan kugoreskan lagi, dan lagi..
Monday, October 26, 2009
lesson 1
Saturday, October 24, 2009
After Sometimes
Everything had changed...
and I would never found the same...
I should never find you again...
So, I keep remind you as the previous...
But now... I have let you go...
co's I never found you the same...
Tuesday, October 20, 2009
Suatu Hari di Jalur Porong
Dalam kemacetan seperti ini, aku bisa mengamati apa yang terjadi di sekelilingku. Ternyata di balik kemacetan ini, ada berkah juga buat sementara orang. Para joki-joki penunjuk jalan alternative, mulai kebagian rejeki, polisi-polisi cepek, pedagang asongan. Walau sementara itu mungkin juga (semoga saja tidak benar) beberapa pengendara tentu tak kurang menggerutu melihat kondisi ini.
Perlahan namun pasti berjalan sangat lambat. Pandanganku terpaku pada beberapa pengemis wanita. Sebagian besar mereka membawa balita. Trenyuh hati ini melihat anak-anak tak
berdosa itu, sekecil itu sudah berada dalam lingkungan yang tak seharusnya untuk tumbuh dan berkembang. Mereka tertidur, bermain ditengah bising kendaraan, debu, dan panas. Entah motifasi apa yang ada di benak mereka mengapa harus membawanya ke tempat seperti ini.
Aku jadi teringat anak-anakku yang juga seusia dengan mereka, semakin perih terasa. Tak bisa melakukan sesuatu pun. Andaikan seluruh pengendara yang lewat di jalur Porong ini memberikan sedekah kepada mereka, apakah masalah ini bisa selesai...? Tak terjawab... Lalu siapakah yang bertanggung jawab kepada generasi-generasi muda itu...? Seolah terngiang kembali pelajaran PMP yg pernah aku terima, entah ini ada di UUD atau di mana; "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.." Bagaimana implementasi dari hal itu... Mengapa mereka masih banyak bertebaran di republik ini... Apa yang menghalangi implementasi dari hal itu..? Tanya tak belum terjawab hingga tak sadar jalur Porong terlewati, hingga aku bisa melaju lebih kencang. Derum mobilku meninggalkan debu-debu pertanyaan yang belum terjawab di jalur Porong pagi itu...(Dalam perjalanan Surabaya - Pandaan, di tengah kemacetan Porong)
Saturday, October 17, 2009
Duty on weekend
"Kejar setoran ya...?"
"Wah bisa cepat kaya dong...?"
"Sakno rek..."
Begitulah beberapa komentar dari beberapa teman, saat aku update FB-ku yang menyatakan weekend ini aku mesti di kantor.
Mengapa sih harus bekerja sampai weekend? Orang kita sudah dijatah waktu kerja 5 hari x 8 jam, apakah masih kurang? atau time management-nya yang tidak bagus?
Bagi beberapa orang working on weekend juga berarti ada extra income. Namun tak sedikit juga yg merasa working on weekend berarti extra cost, extra tenaga, pikiran, karena memang free of charge alias gak dibayar.
Apapun impact-nya dibayar atau gak dibayar, yang jelas working on weekend memang sudah menjadi tuntutan profesi, ya maunya sih normal-normal aja sesuai pagu... Namun kalau memang pekerjaan hanya bisa dilakukan waktu saat process off...?
So, enjoy ajalah... ;) toh tidak setiap minggu... Andaikan setiap minggu? Kayaknya perlu diganti aja tuh hari liburnya.... hehehe....
(sekedar iseng, nungguin vendor set up conveyor kok ya gak selesai-selesai.... ;))))
Thursday, October 15, 2009
Tertinggal
"Di mana tas kerjaku?" bingung campur gugup.
"Ups! Padahal sebentar lagi harus lead pre-bid tender" keluh sambil melongok ke jok belakang barangkali si tas beserta perkakas kerja terselip di situ. The busy day, hari ini ada meeting pre-bid ja09.00, kemudian review progress jam 11.00, selanjutnya ada beberapa deadline task yg harus diselesaikan, dan semuanya perlu data-data yang tersimpan manis dalam laptop-nya. Dan sekarang seakan tas kerja yang berisi laptop-nya tak berbekas, padahal seakan tadi sebelum berangkat sudah dia masukkan di jok belakang.
Termangu sejenak, mengingat perjalanan hari ini. Sementara alexandre Christie di tangan kirinya perlahan namun pasti beranjak menuju 08.30.
Start, antar Adis ke sekolah... Beli bensin... hm rasanya aku tidak membuka pintu mobil sama sekali. Merenung sambil mengingat-ingat.
Ah, mendesah tidak sabar, call aja ke rumah....
" Halo, Ay... tasnya kok ditinggal" Bunday langsung menjawab dering telponku, seakan sudah tahu apa yang akan aku tanyakan.
Ups.... berputar lagi memori.... "Astaga.... ternyata, tas -nya Adis yang aku masukkan ke mobil...."
Berjalan santai tangan di saku.... "Nyantai juga ya, ke kan tor tanpa menenteng beban...".
Entahlah, dipikir nanti kalau sudah sampai kantor, harus bagaimana presentasi tanpa laptop dan data.
(Sesaat tiba di Parkir Area Delta SKJ Plant... Clingak-clinguk mencari tas kerja yg raib)
Tuesday, September 15, 2009
Time
Time has been changed...
Who could hold the time which goes surely...
Unreliable...
Sheet by sheet of calendar change...
Till we need the new one..
If it done...
We just realize...if...There's not enough time...and so much left undone...Sometime people say"that there will be tomorrow..."but...I think it just excuse...Co's we never change the time has past...
Don't let the time leave you in regret...
Friday, August 21, 2009
Marhaban Ramadhan
Tuesday, August 18, 2009
ACRYLIC DISH SET
Untuk menyambut tamu-tamu, biasanya disediakan cemilan dan makanan ringan...
Alangkah manis-nya jika makanan ringan tersebut dihidangkan pada wadah yang unix.
ACRYLIC DISH SET....!!!
Menemani Anda menyambut tamu-tamu Anda...
Acrylic Dish set, terdiri atas.
- Piring persegi besar (1 pcs)
- Piring persegi kecil (6 pcs)
- Tutup & tatakan gelas (6 pasang)
- Tempat Tisue (1 pcs)
Acylic Dish set tersedia dalam 4 pilihan warna:
- Merah, Orange, Hijau, & Biru...
Tertarik.... Jangan dulu.... coba lihat picturenya.... ;)

Nah... Tertarik.... Tahan dulu... Perhatikan sekali lagi..... Ditimbang-timbang doeloe...........
Nah, yakin pengen memilikinya....? Tinggalkan message & no. contact Anda di kolom comment atau andri.andrian911@gmail.com Kami akan menghubungi anda... Tawaran menarik... u/ Surabaya/Sidoarjo/Malang... ongkos kirim gratiiiiiiiisssssssssss..Sunday, July 12, 2009
DUNIA 2
Sehari-harinya, mereka berangkat berombongan, karena mungkin sudah se-hati, jadi masing-masing sudah tahu jam berapa mesti siap dan mangkal di pos pemberangkatannya.
Androe, mengawali terlebih dahulu bareng Ryan. Sampai traffic light Blimbing sudah menunggu Timot. Di depan Sabillillah ada si van hallen, Moeldermoth, Gus Ut, ama Soson, kadang Nugi gabung juga bareng Bison. Lepas Ciliwung, rombongan makin besar ada Awid, Phatsy, Yoyon, wah meriah.
Rupanya kebosanan yang sama juga mulai menghinggapi Timot, rasanya ada gejolak yang menggebu ingin mencoba tantangan yang lain.
”Droe, koen tau nggandhol pick up ta...? tanya Timot waktu istirahat di bawah pohon kenari.
Androe menggeleng penuh minat sekaligus ragu.
“Ayo sesok nggandhol ae yooo... sementara gak usah sepedaan”
Androe bengong minat tapi ragu, dia ingat pasti ibunya gak suka cara ini.
”Wis talah, sesok yo, tak enteni ndek lampu merah” Timot kembali memprovokasi. Itulah Androe, kelemahan dia, terlalu setia kawan, sehingga kadang-kadang di susah menolak ajakan teman-temannya.
Awalnya Androe mendapat sepasang ayam dari Om-nya. Tidak disangka, Androe cukup tekun juga merawat si Putih dan si Gogo, hingga saat ini sudah jadi hampir 20 ekor. Sekarang dia mulai bisa merasakan hasilnya. Paling tidak, seperti hari ini, saat dia perlu sarapan lebih awal, telur si putih cukup bisa diandalkan untuk dijadikan lauk. Bahkan pernah juga saking banyaknya telur si Putih dan anak-anaknya, hasil penjualan telurnya bisa dia belikan sepatu.
-------------
10.00 Androe sampai di traffic light, di sana Timot sudah menunggu, santai jongkok di depan sebuah toko. Sebatang rokok terkepit di antara jari jemari-nya, ups!!!
”Mot, kau merokok?” Androe, sedikit heran. Timot cuman senyum. ”Tenang boy, Cuma coba aja, sebatang tak apalah... ”
”Gak enak kok boy, pahit bikin batuk... Nih mau coba?” Timot menawarinya. Androe menggeleng segan. ”Ayolah boy, biar tahu kalau rokok itu memang tak enak” Timot kembali menyorongkan ke mulutnya. Androe, mundur sejenak, matanya menangkap bus sedang berhenti karena lampu merah.
”Mot, naik bus aja, kan biasanya berhenti deket sekolah”. Tanpa menunggu persetujuan Timot, Androe, bergegas menuju bus.
”Cak nunut yo” Androe polos meminta ijin pada kenek bus yang di pintu masuk bus.
”Ayo le, cepet munggah-munggah”. Kenek bus sigap menarik tangan androe naik. Timot kelabakan, membuang sisa rokok, tergopoh-gopoh mengejar Androe.
”Lik, melok-melok leek...” Timot meloncat ke pintu bus yang mulai perlahan berjalan.
”Jangkrik koen Droe, ninggal ae, malih tak buak rokokku” Timot mengumpat, Androe cuman tertawa geli melihat Timot terengah-engah. Beberapa penumpang melirik tak peduli.
”Gendheng koen Ndroe, jare gak tahu nggandhol, lha iki kok langsung iso”. Timot masih agak heran melihat Androe langsung menemukan cara ke sekolah dengan cepat. Ternyata, diam-diam Androe sudah mengamati, kalau selama ini, bus yang akan menuju terminal Patimura, pasti berhenti di ujung jalan Cipto atau sebelum pasar Klojen. Jadi kalau dia boleh numpang, tinggal menunggu saja, bus-nya akan berhenti di mana.
”Hm, enak to, nebeng bus, gak capai”. Timot bergumam senang.
----------------
Ayooo Sekolah


Akhirnya, jam 7 mereka bunda, de Haf bersama si hijau, berangkat mengantar Adis. Senang melihat wajah-wajah semangat mereka.
Jadilah aku kembali bersama C007 ber-bike to work lagi.
Selamat belajar Adis... ;)
Monday, July 6, 2009
DI DEPAN JENDELA (3)
Tumpah meruah mendung menyerah menjadi hujan
Air kolam semakin berpendar menerima hantaman pesan dari sang mendung.
Berenang semakin riang menyambut nafas baru, harapan baru...
Galauku...
Jendela ku tutup mengabur bersama tirai menyatu
Malam dan hujan ... menutup hariku kini...
Di Depan Jendela (2)
Langit mendung
Matahari berkabung tak sempat menebar panas sinarnya
Bayu bertiup sedikit tergesa-gesa mengurai gumpalan mendung yang sudah tak tahan ingin menumpahkan sedan.
Aku masih di depan jendela bersama kecipak dan hempasan sirip ekar ikanku.
Beriak-riak permukaan memendar gelombang kecil sampai ke tepian
Saturday, July 4, 2009
DI DEPAN JENDELA (1)
Ku buka tirai jendela, ku biarkan sinar mentari pagi menyeruak menembus dingin kamarku.
Ku buka jendela, segar udara pagi menyergap penciumanku, mengusir pengap sisa-sisa respirasiku semalam.
Hari baru diawal minggu pertama bulan baru.
Memandang kolam ikan di bawah jendela.
Berenang berputar menyusuri lekuk dinding kolam.
Sesekali kepalanya menyembul, seakan mengucapkan selamat pagi kepadaku.
Ku ambil pallet makanan ikan
Ku lemparkan ke kolam
Segera ikan-ikan itu berebut riang, awal memulai hari baru.
Friday, June 26, 2009
ACROSS SURAMADU BRIDGE
Then after passed through the busy traffic as along city side of Surabaya, we reached the main street toward bridge gate at ‘Kedung Cowek. The street looks like nice and clean, maybe caused of after repaired altogether with bridge construction.
SURAMADU BRIDGE
A little bit surprised when we got closely to the middle picket. All cars drive in left side regulated nicely, there was not even one car at fast line in right side, that’s not usual moreover at highway, only my car at right side.
Then, after I arrived at the middle of bridge, I just knew why all cars drive on the left side, because they would to stop at the middle of bridge to take a picture or to enjoy middle section of bridge, felt the wind blows. Ah, I had thought that the driver followed the rule to drive always at the left side. By the way, at last I tempted to follow them parked my car and took some picture, enjoyed the atmosphere of middle bridge.
This bridge has 5.4 km length, spread out above Madura strait. Starting at ‘Kenjeran in Surabaya and ended at Labang Madura. This bridge that opened by President RI, Mr. Susilo Bambang Yudhoyono, fund spends about IDR 4.5 trillion. It’s realy giant project
a moment after entrance gate
toward middle 1st picket
2nd Picket
toward Madura Island
Arrived Madura
Sunday, June 21, 2009
SUNSET LOMBANG BEACH
...apa yang kau impikan Nak, tentang bola itu 




Friday, June 19, 2009
Aduuuuh Malunya Akuuuu........
Mr. Cars, kelimpungan dibuatnya. Pastilah.... Ada 300 lebih mulut, berbicara bersama...
”Anak-anak coba tenang sebentar...!!!!” suaranya sedang di set se bariton mungkin. ”ehem...hm... cek...cek” memenuhi segenap ruangan aula.
Sunyi senyap.... Semua mata tertuju pada stage... Mr. Cars, dengan gaya seorang rocker, mengambil mikropone dan mulai membuka acara… Hehehe… dasar anak-anak, masih juga ngedumel, berisik membicarakan polah tingkah Mr. Cars. Apalagi si Androe, melirik geli sambil menendang kaki Azam. Azam menoleh, “hush, diam diaaam” berbisik pelan.
” Tahu gak Zam, masak Mr. Cars ngaku-ngaku, sebagai pangeran Charles”.
” Tahu gak kenapa?” Adroe masih aja berbisik jahil.
”Hah?” Azam shock. ”Emang kenapa?”
”Hihihi, kok bisa?” Nugi, nimbrung. Adroe senyum-senyum jahil.
”Iyaaa, dia bilang karena namanya punya akhiran yang sama ama Lady Diana istri pangeran Charles” Androe masih berbisik...
”Kok?” Azam ama Nugi melongo.
”Iya namanya kan CarsaDI ama Lady DI...” hehehe... Androe makin jail.
Azam dan Nugi baru nyadar, terkikik agak keras....
”Hai, coba tenang yah....!” kembali Pangeran Charles, eh... Mr. Cars… memecah suara dengung ribut di aula.
“Baik kita segera berangkat ya” Mr. Cars memulai briefing.
”Numpak Opo” tiba-tiba ada suara celetukan persis di belakang Adroe. Tak pelak lagi seisi aula kembali bergemuruh, 300 anak tertawa bersama.
Mr. Cars makin menggelegar, merah padam. “Ziapa itu?” Sunyi… Semua mata memandang ke arah Androe. Seakan menuduh dia lah yang melakukan itu. Androe bengong, tapi tak berdaya. Bukan dia yang melakukan, tetapi mengapa semua mata menuduhnya. Apalagi pandangan Mr. Cars menyala menghujam ke arahnya.
”Hei kamu yang bertopi! Maju ke zini kau!!!” kembali menggelegar sambil telunjuknya yang segedhe jempols menuding ke arahnya.
Androe bengong pasrah, maju... tidak... maju... ”tapi bukan aku...” keluh pelan.
Azam, menendang pelan kakinya, menunduk ”Ssst, udah maju sana, makin marah ntar dia” berbisik pelan. Nugi di sebelah kanannya terkikik tertahan.
Ups! Matanya bersirobok dengan wajah lembut Dev, seakan iba memandangnya.
”Kemari kau!!!” Mr. Cars masih menggelegar, melotot bagai sang Rahwana.
Teringat Sang Rama, tokoh idolanya, Androe melangkah tegap menuju stage. Dibayangkannya Sang Rama, yang maju gagah berani ke medan laga menghadapi Rahwana. Tira bagai dewi Sinta melepas dengan penuh kesedihan.
Se Aula, sunyi, harap-harap cemas menunggu apa yang terjadi pada Androe, sebagian berdesis-desis menahan tawa. Nugi, cekikikan tertahan, Azam bengong pasrah seakan tidak tega menjadi saksi ’pembantaian’ yang akan terjadi di atas sana.
Di atas Mr. Cars sudah menunggu berkacak pinggang dengan muka sangar-nya. Bulu kuduk Androe merinding, bukan karena takut... tetapi khawatir bakal kena hujan lokal nanti kalau Mr. Cars sudah mulai menyemprotnya dengan kata-kata penuh dendam karena telah mengacaukan suasana siang ini.
”Hi, kau lagi, kau lagi.... ”
”Tahu salah kau apa, hah?”
Tak banyak berkata lagi Mr. Cars merenggut topi yang di pakai Androe, menariknya ke bawah hingga menutupi mukanya.
Androe sesaat hilang kesadaran, peristiwa itu begitu cepat.
”Sudah, turun kau” Mr. Cars menghardik tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Androe melangkah turun kembali, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Dadanya seakan terhimpit sempit, apalagi saat se-aula ikut menertawakan kekonyolan di atas panggung yang baru saja terjadi.
Dengan muka merah padam androe kembali ke barisan, satu garis perang sudah digoreskan oleh Mr. Cars, ”kamu selamanya akan mengisi sisi kelam dalam hatiku” gemeletuk gigi Androe menahan marah.
Siang menjadi tak bergairah, panas penuh hawa amarah. Azam dan Nugi tak mampu menghibur gundah, sahabatnya benar-benar telah terbakar.
Saturday, June 13, 2009
PRAMBANAN TEMPLE
Everytime I go to Jogja, I never let this view. A beautiful temple, that precisely lied on the side of Main Street Solo-Jogjakarta, exactly at Prambanan village, about 20 km east of Jogjakarta.Thursday, June 11, 2009
Suatu Senja di Stasiun Gambir
Ada sedikit rasa bersalah, saat aku minta ijin pulang lebih awal tadi, walau sebenarnya prosedur yang aku lalui udah benar. Ini adalah kali ke tiga aku pulang, tidak biasanya seperti ini. Tahun lalu aku hanya pulang sekali pada waktu lebaran. Tentu saja, ini memang luar biasa, dan "Top Secret", aku belum bisa berterus terang, mungkin itu yang membuatku merasa bersalah.
Tuesday, June 9, 2009
SEGITIGA PATAH (1)
Riuh suara stasiun kota baru segera menyergap inderaku. Rasanya belum ada perubahan begitu berarti sejak terakhir kutinggalkan 4 tahun yang lalu. Langkah kakiku perlahan membawa ku mengikuti arus penumpang bergelombang menuju pintu keluar stasiun. Pekik kerinduan terdengar di sekitarku, sapaan khas bahasa malang berbaur memenuhi ruang penjemputan.
”Jangkrik koen, yo’opo kabare? Wis suwe gak hilum rek, tambah tahes ngene cak” seorang pemuda agak dekil menjemput, mungkin kakaknya yang mungkin baru pulang dari perantauan. Mereka bersalaman dan berpelukan akrab.
Sampai di depan stasiun, aku tercenung ”ah akhirnya aku kembali ke Malang”. Aku membatin. Ada sedikit perih mengalir di dada. Beberapa taksi gelap dan tukang becak menawarkan mengantarkan aku. Aku berlalu begitu saja, seolah mereka tak ada. Perih di dada masih mengiris, tiap kali kuingat Malang, dan.... ”ah, aku tak sanggup menyebut namanya”.
Jika tidak ibuku menelepon ku untuk kesekian kalinya, aku tak hendak pulang. 4 tahun berlalu, rasanya belum cukup untuk menyembuhkan luka hatiku. Jika tidak adikku dan calon suaminya yang meminta dan memohon kehadiranku tak akan aku pulang.
“Pulanglah Nak, sebentar saja. Kamu tentu masih ingat pesan mendiang Bapakmu” Ibuku di seberang sana.
Terdiam, melayang kembali saat-saat terakhir mendiang Bapakku. Beliau memegang tanganku dan tangan adikku disatukannya. Hanya singkat pesannya.
“Tolong gantikan Bapak melaksanakan kuwajiban terhadap adikmu” setelah itu bapakku terkulai layu, pergi untuk selamanya.
Kota tercintaku telah memberikan trauma kisah bagiku. Ragu ku melangkah, bayang-bayang suram berkelebat. ”Ah, aku begitu rapuh tak mampu menerima kenyataan itu. Hingga harus melarikan diri, mengingkari kecintaanku pada kota ini” aku mengeluh pendek. Duduk tersandar di bangku depan stasiun, sebatang A mild terjepit di jariku, asapnya perlahan mengepul, membentuk siluet-siluet wajah timbul tenggelam.
Bersambung....
Monday, June 8, 2009
Suatu Pagi ....
”Ada apa gerangan... kok banyak juga orang-orang yang kelihatannya sedang melihat sesuatu...” Si Hijau bergumam tak senang.
”Ups! benar ada kecelakaan” si Hijau memekik tertahan.
Sesosok manusia telah terbujur kaku ditutup kain...
”Di jalan sesempit dan seramai ini, masih ada juga orang yang berjibaku dan akhirnya berujung pada kematian yang sia-sia”. Si Hijau tak habis pikir.
Si Hijau meluncur lagi tersendat, lepas hilang sudah gundah, kembali ceria penuh semangat.
Akhirnya sampai juga di Rungkut Raya.... hah... lega... lancar kali ini. Dia meliuk meluncur seakan tak sabar menuju Jemursari.... Ya, dia hari akan masuk ke spa... ”hehehe” tertawa sendiri.
Sudah 75838 km, saatnya memanjakan diri, merawat diri rutin di perawatan 75000 km, ”hiks telat”. Keluh. Tapi tidak apa-apa... Huh, kebayang relaksasi bersama om-om mekanik.
”Huh, kenapa sih jarang ada mekanik wanita?” Sebal Si Hijau.
Perawatan apa ya? Hm, sepertinya padangan mataku ini yang nanti perlu diset agak tinggi, abis tiap kali pulang malam pandangan jadi agak terbatas, jadi takut-takut melaju 110 km/jam di tol. Oh ya, wiper sudah keras karetnya perlu ganti juga... Oli, dah pastilah.... horn ya...ya... kadang suka ngadat... hehehe... Jadi susah menyapa teman-teman di jalan, apalagi yang suka meleng hobby menghalangi jalan...
Ah, nikmatnya, setelah hampir 4 tahun menyusuri berbagai jalan di pulau Jawa, dari Probolinggo sampai Bandung sudah pernah dijajaki... Ada satu keinginan nih dalam waktu dekat ini, menyeberang lautan, entah ke Bali atau ke Madura... Kapan ya...
Tak terasa, sudah sampai di Spa... Santai dulu ya..... ;)
Saturday, June 6, 2009
MAKAM IMOGIRI
Ternyata di sinilah makam raja-raja Mataram yang cukup termashur itu. Tidak begitu jauh dari kota, sekitar 20 km ke arh tenggara Djogja. Komplek pemakaman ini dibangung pada sekitar tahun 1632 Masehi oleh Sultan Agung, raja Mataram.


Menyusuri jalan satapak menuju makam, kami bertemu dengan gerbang makam yang tampak bergaya Hindu. Masuk gerbang, terdapat masjid di sebelah kiri, ada semacam tugu jam di depan masjid. Beberapa langkah dari area masjid, mulailah berderet anak tangga menuju area pemakaman. Tangga ini cukup lebar dan cukup curam, tak kurang dari 400 anak tangga sampai ke atas. Hm, cukup lumayan membuat jantung terpacu samapai ke atas. Di sebelah kanan tangga tampak terdapat beberapa kelompok makam. 

Tuesday, June 2, 2009
ARUNG JERAM (2)
Sungai Pekalen, ternyata menyimpan banyak legenda masa lalu. Konon kabarnya di sungai inilah Raja Hayam Wuruk sering menghabiskan waktu bercengkerama menikmati keindahan sungai ini.
Sungai yang terbentang diantara 3 kecamatan, Tiris, Maron, dan Gading ini bersumber dari mata air Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro. Ada dua bagian sungai ini yang digunakan route rafting, Pekalen Atas dan Pekalen Bawah. Pekalen atas mempunyai grade tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari Pekalen bawah, yaitu antara grade 3 dan 4, sedangkan pekalen bawah mempunyai grade 2. Selain itu Pekalen atas juga mempunyai pemandangan yang lebih exotis dengan tebing-tebing curam dan barisan air terjun, tak kalah menarik, di dinding-dinding tebing-tebing itu, bersarang ribuan kelelawar.
Ah, akhirnya sampailah kita di tempat start, konon kabarnya, Mahapatih Gajah Mada sering mandi di tempat ini.
Kami segera membagi diri dalam 3 perahu karet, masing-masing perahu di pandu oleh seorang instructure. Go.... segera perahu karet meluncur menyusuri air yang menggelegak, berkelok, dan menggelegak menuruni jeram dan bantuan. Sejenak ada rasa ngeri juga merasakan perahu karet terombang-ambing diantara bebatuan bahkan terkadang kami juga terlempar atau terjatuh di atas perahu saat perahu menuruni jeram yang cukum curam. Namun perlahan, setelah kita menyesuaikan diri dengan kondisi perahu yg terus bergoyang, rasa ngeri itupun berubah menjadi sensasi yang mengasikkkan. Apalagi jika berhasil melalui jeram yang cukup curam.
Jeram-jeram di jalur ini mempunyai nama-nama yang cukup unik, ada yang dinamakan jeram Indosat, jeram Titanik... Entah kenapa dinamakan seperti itu, kamu tidak sempat menanyakan itu.
Beberapa jeram telah terlewati, akhirnya kami sampai di barisan air terjun, cukup menakjubkan, benar-benar keindahan yang sempurna, menyaksikan deretan air terjun yang memanjang di atas lintasan. Perahu karetpun melintas di bawah guyuran air terjun, arus cukup tenang karena mungkin di area ini cukup dalam. Seorang kawan sempat terpelanting jatuh ketika melintas di bawah air terjun tersebut, mungkin terkejut karena tiba-tiba air mengguyur deras. Instruktur dengan sigap meraihnya dan menariknya kembali naik ke atas perahu.
Lepas dari air terjun, sejenak kita berhenti menikamati keindahan panorama, sambil sekalian bergaya... hehehe... kapan lagi ‘narsis mode ON.
Pengarungan dilanjutkan, kali ini kita akan melewati jeram Titanik yang menurut instruktur cukup curam. Kembali teriakan dan pekikan rekan menggema kala melewati jeram itu. Perahu karet terombang ambing, terkadang meluncur deras menghantam tebing sungai, sungguh mengasyikan.
Akhirnya sampailah kita di check point pertama, beberapa rekan-rekan iseng membalik perahu, kontan saja rekan yang tidak menjadi gelagapan tercebur di bawah perahu... hehehe. Di check point sudah menunggu pisang goreng hangat dan wedang jahe.... Wow, cukup nikmat, menghangatkan tubuh yang basah kuyub.
Arus mulai agak melemah ketika kita mendekati titik akhir pengarungan. Selesai..? Ternyata belum, kita diajak lagi melakukan aksi yang cukup memacu adrenalin kita, meloncat bebas dari tebing setinggi kurang lebih 5 meter di atas permukaan sungai... Segera rekan-rekan bergantian merasakan 3 detik melayang, seakan hilang kesadaran, tahu-tahu badan sudah menembus ke dalaman sungai dan muncul di permukaan....
Sampai di check point terakhir... Selesailah pengarungan ini.... Kembali ke base camp.... ;)
ooOOOoo
ARUNG JERAM (1)
Santai sejenak, bertemu dengan rombongan dari Malang Tepat setelah melewati jembatan sungai Gending yang berjarak 10 km dari kota Probolinggo, kami keluar dari jalur utama, belok ke kanan menuju Songa Atas, yang masih berjarak sekitar 13 km. Kali ini kami tidak bisa melaju kencang, karena harus melalui jalan pedesaan yg sempit, hanya cukup untuk 2 mobil berpapasan. Tepat pukul 07.45 kami sampai di Base Camp Songa atas. Dan tak berapa lama kemudian, rombongan pertama tiba dari base camp Songa Bawah. Lengkaplah kami 14 orang memulai petualangan arung jeram di Sungai Pekalen ini.
Base Camp Songa Atas
Si Hijau terparkir manis, dengan latar belakang Pick Up yang akan membawa ke titik start
bersambung...
..Sebuah Akhir..
Hati tak akan pernah pasti, timbul tenggelam bersama waktu, berubah warna begitu deras. Cinta dan benci seakan berbaur tanpa batas, rindu dan dendam menyatu tanpa sekat.
Sesaat hadirnya membawa harap, selangkah kemudian, kembali membuatnya terkapar. Sungguhpun dalam hatinya tiada harap untuk kembali, sebaris senyum cukuplah. Ah, mungkin hatinya terlalu berkeinginan lebih, mungkin juga terlalu manja berharap. Saat angan dan kenyataan tak sejalan, kembali melayanglah dia...
Thursday, May 28, 2009
Pola
...Sama, apa yang kita alami saat ini, adalah juga merupakan buah tangan kita di waktu lampau. Adakalanya kita termenung, ketika baru saja mengalami suatu peristiwa, entah itu sedih atau gembira. "Andai saya tidak berangkat, tentu tidak akan mengalami hal ini...". Benarkah...? Tetapi mungkin saat kita memilih untuk berangkat, kita juga tidak tahu akibatnya akan seperti itu. Selalu ada benang merah yang bertaut, antara peristiwa kini dengan peristiwa yang telah lalu.
...Begitulah, kita berjalan, menjalani kehidupan, seolah sudah ada pola yang kita ikuti, andaikan kita memaksakan suatu pola yg kita inginkan namun sebenarnya itu bukan pola kita, selalu ada saja penghalangnya, begitu juga sebaliknya. Andai suatu pola kehidupan memang sudah menjadi garis hidup kita, pasti selalu ada saja sesuatu yang menarik kita ke arah itu.
Saturday, May 16, 2009
Suatu Pagi di Ulang Tahun De Hafiz

De Hafiz jadi ngambek deee... "Kan aku dulu yg tiup..." Wah Teh Adis... Kok malah yang ngadu ke Aki.. "Aki, aku juga mau tiup lilin..."
Gantian sekarang Teh Adis yang ngambek....

Tuh, De Hafiz tiup lilin, Teteh masih ngambek...
Akhirnya... Tiup bareng aja yah... hayuxxx... biar bisa segera bisa buka kado...
Smile... sambil colek kue ultah...
Buka kadonya... "aku dapat apa ya...?"De Hafiz dapet ucapan selamat, dari aki, nini, tante Leni, & Om Kiki...
"Aki... aku dapet cars..."
De Hafiz gembira...
"Aku dapet boneka..."
Teh Adis pun senang...
-SELAMAT ULANG TAHUN-
MUHAMMAD HAFIZ AKMAL
13 Mei 2006 - 13 Mei 2009



